OPINI
OPINI: Jebakan Paylater pada Generasi
SETELAH beberapa saat covid-19 berlalu masyarakat sudah terbiasa berbelanja secara online karna keterbasaan untuk bertemu dan keluar rumah sehingga le
Oleh: Sri Yanti SPd.I
SETELAH beberapa saat covid-19 berlalu masyarakat sudah terbiasa berbelanja secara online karna keterbasaan untuk bertemu dan keluar rumah sehingga lebih memilih melakukan aktifitas di rumah saja dan sosial media tanpa terkecuali belanja kebutuhan sehari-hari pun via online.
Seiring berjalannya waktu hari ini generasi muda sudah biasa menggunakan media sosial khususnya belanja dengan berbagai kemudahan yang di berikan melalui aplikasi yang hampir semua ada di genggaman. Berbagai fitur ataupun aplikasi yang memudahkan tersebut membuat generasi hari ini semakin di mudahkan dan bahkan terlena dengan kondisi tersebut
Tak jarang juga mereka bisa berbelanja tanpa harus bayar sekarang yang biasa kita kenal dengan sebutan paylater.
Pemahaman rendah soal risiko paylater, ditambah mitigasi risiko gagal bayar yang lemah telah memicu fitur Buy Now Pay Later (BNPL) berujung menjadi jerat utang yang melilit, kata peneliti Institute for Development of Economic Studies (Indef), Nailul Huda.
Di media sosial, fitur paylater yang berujung gagal bayar telah berulang kali menjadi pembahasan. Sejumlah pengguna Twitter sempat membagikan tangkapan layar yang menunjukkan tagihan paylater yang membuatnya merasa “sesak” membayar.
Survei yang dilakukan oleh Katadata Insight Center dan Kredivo terhadap 3.560 responden pada Maret 2021 menunjukkan bahwa jumlah pelanggan baru paylater meningkat sebesar 55 persen selama pandemi.
Sementara itu, menurut Nailul yang mengutip data OJK, karakter pengguna yang kesulitan membayar tunggakan kredit menjadi semakin muda.
“Ini perlu diwaspadai untuk karakter pinjaman macet itu sekarang perkembangannya lebih tinggi untuk peminjam yang usianya di bawah 19 tahun,” kata Nailul.
“Karena sistem paylater ini mudah, bisa connect secara digital, generasi muda yang lebih efektif banyak yang mengajukan padahal belum punya pendapatan.”
Fitur paylater seperti ini, kata dia, pada akhirnya menjadi alternatif bagi orang-orang yang “tidak bankable” untuk mengakses kredit.(https://www.bbc.com/indonesia/articles/cml0eempvkno).
Generasi hari ini yang cenderung fashionable bahkan cenderung konsumtif dan mendorong mereka untuk berbelanja dan di tambah lagi budaya hedonisme yang lebih mementingkan kesenangan semata sehingga terlena dengan kondisi tersebut namun mengambil jalan pintas atau mudah untuk mencapai keinginan mereka.
Kemudahan dalam transaksi paylater sangat di gemari oleh masyarakat khususnya generasi muda di lihat dari banyaknya fitur-fitur berbasis online yang sangat dekat dengan mereka.
Namun mudahnya mengakses paylater dan melakukan pembayaran nanti ternyata banyak pengguna yang gagal bayar karna tingginya hutang yang harus di bayar khususnya generasi muda yang masih di bawah 19 tahun karna belum memiliki penghasilan dan pekerjaan akhirnya yang membayar hutang mereka adalah orang tua yang semakin menambah beban hidup.
Generasi muda yang cenderung konsumtif menggunakan paylater sebagai untuk menyalurkan hobi mereka belanja baik membeli hanpon atau terkait fesyen yang lagi trendi sehingga mereka bisa berbaur dengan teman-teman mereka yang juga sama-sama hobi fesyen, namun mereka tidak melihat bahaya konsumtif yang berlebihan dapat menimbulkan bahaya di masa depan .
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Sri-Yanti-SPdI-sdvd.jpg)