Jumat, 5 Juni 2026

HUT RI 2023

Perang Peore, Sejarah Perlawanan Rakyat Poso Terhadap Kolonial Belanda

Kerajaan-kerajaan di Bumi Tadulako menolak tunduk terhadap pemerintahan Belanda sehingga terjadilah perang itu.

Tayang:
Editor: mahyuddin
handover
Ilustrasi Perang 

TRIBUNPALU.COM, PALU - Terdapat beberapa perang yang terjadi di Sulawesi Tengah melawan Kolonial Belanda.

Kerajaan-kerajaan di Bumi Tadulako menolak tunduk terhadap pemerintahan Belanda sehingga terjadilah perang itu.

Di Kabupaten Poso, dikenal Perang Peore atau Perang Lore.

Perang Peore terjadi pada tahun 1905 antara Pemerintah Kolonial Belanda dengan Kerajaan Lore.

Kerjaan Lore mencakup Kecamatan Lore Peore dan Lore Utara, Kabupaten Poso.

Dikutip dari Wikipedia, Sabtu (5/8/2023), Perang Paore merupakan rangkaian dari kampanye militer Belanda di Sulawesi Tengah.

Baca juga: Perang Kayumalue, Perlawanan Rakyat Lembah Palu atas Penjajahan Belanda di Sulawesi Tengah

Perang ini adalah titik puncak perseteruan Belanda dengan Ratu Kerajaan Lore, Polite Abu, yang tidak ingin tunduk.

Pasukan Kerajaan Belanda dipimpin oleh Letnan HJ Voskuil menghadapi pasukan Kerajaan Lore yang dipimpin Umana Hulinga.

Perang Peore berakhir dengan kemenangan Belanda setelah pasukan Lore menyerah.

Perang Peore terjadi kala Belanda telah menduduki sebagian wilayah di Sulawesi Tengah.

Pada tahun 1094, keberadaan Belanda di Sulewana diganggu kelompok orang Lore, yang juga selalu menyerang dan menjarah di daerah Poso Pesisir.

Setelah kejadian itu, Belanda berupaya menangkap pimpinan disebut sebagai pengacau dari kelompok Lore.

Belanda memberi ultimatum kepada Ratu Polite Abu untuk menyerahkan kelompok pengacau itu. Tetapi ultimatum tersebut diabaikan dan ditolak.

Berkedok pemulihan keamanan, Belanda pun membidik Kerajaan Lore usai menaklukkan Kerajaan Sigi.

Pada bulan September 1905, Kontrolir Poso Arie Jacob Nicolaas Engelenberg melakukan inisiatif untuk mengadakan pertemuan dengan mengundang seluruh Kabose dari dataran tinggi Napu dan Pebato.

Pertemuan itu untuk menjelaskan tentang rezim pemerintahan yang baru.

Hanya saja para Kabose dari Napu dan Pebato menolak untuk hadir.

Baca juga: Benteng Fafontofure, Jejak Perlawanan Kerajaan Bungku Terhadap Kolonial Belanda di Morowali

Belanda melakukan upaya tangkap paksa terhadap warga Lore, termasuk tokoh masyarakat bernama Umana Soli.

Upaya belanda itu mendapat perlawanan warga Lore hingga menimbulkan korban 60 orang Napu tewas.

Peristiwa ini disebut Perang Peore.

Perang tersebut menewaskan Makada Abu dan Ama (Umana Soli).

Sedangkan Tado Abu (Umana Lolo) ditawan dan diasingkan ke Manado.

Umana Hulinga, Panglima Kerajaan Lore yang juga ikut serta dalam perang itu akhirnya menyerah atas perintah Ratu Polite.

Kekuasaan Kolonial

Belanda, yang sejak abad ke-17 menancapkan kekuasaan perdagangan dan politik mereka di pulau Sulawesi melalui Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC).

Belanda mengacuhkan wilayah dataran tinggi Sulawesi Tengah karena sulit dicapai dan hanya memiliki sedikit lahan yang produktif.

Bagaimana pun, keadaan ini hanya berlangsung selama dua abad.

Perluasan wilayah Kerajaan Bone di seputaran Teluk Tomini menarik perhatian pemerintah kolonial.

Naiknya aktivitas perdagangan kopra dan hasil hutan oleh pedagang Tionghoa dan Muslim, serta meningkatnya intensitas perdagangan ilegal dan pembajakan adalah faktor lain yang memicu keterlibatan Belanda.

Peristiwa khusus yang lain terjadi, memaksa pemerintah kolonial untuk ikut campur lebih dalam dengan suku-suku di pedalaman Sulawesi Tengah.

Baca juga: Sejarah Batu Raja Tomini, Situs Kerajaan yang Pernah Disakralkan Warga Parigi Moutong

Pada tahun 1890, sebuah kapal uap Singapura berbendera Inggris muncul di Teluk Tomini, tanpa meminta izin di Gorontalo yang merupakan pusat Asisten Residen Belanda.

Kapal bernama Glangy ini berlayar menuju Poso dan mengirimkan dua orang penyelidik Australia, yang berhasil menembus pedalaman hingga di daerah pertemuan Sungai Poso dengan Tomasa untuk melakukan riset tentang keberadaan emas.

Rumor yang beredar saat itu menyebutkan bahwa Inggris telah menjalin hubungan persekutuan dengan kerajaan-kerajaan lokal agar dapat bebas dari kontrol Belanda.

Untuk mengantisipasi langkah Inggris, pemerintah kolonial menawarkan kontrak politik dengan empat kepala suku dari Pamona: Garoeda, Oele, Boenga Sawa dan Bengka.

Pada bulan September 1894, Belanda mengangkat kontrolir pertama di Poso, Eduard van Duyvenbode Varkevisser.

Keberadaan pemerintahan Belanda di mulut sungai Poso ini masih belum diketahui di wilayah pedalaman Poso pada saat itu.

Baca juga: Tari Luminda di Morowali Bukti Keeratan Hubungan Kerajaan Bungku dan Buton, Cek Sejarahnya

Ketertarikan Belanda atas wilayah Sulawesi Tengah, utamanya Poso, baru diwujudkan menjelang akhir abad ke-19.

Setelah berdiskusi dengan Raja Sigi, Belanda memutuskan untuk mendaratkan seorang misionaris muda bernama Albertus Christiaan Kruyt di Mapane pada tahun 1892.

Hingga awal tahun 1905, Kruyt dan Adriani terus menerus melakukan ekspedisi pemetaan wilayah Poso, terutama kekuatan potensial pasukannya, sebagai data awal yang kemudian digunakan pihak Belanda untuk menundukkan Poso.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved