Selasa, 14 April 2026

Morowali Hari Ini

Industri Nikel Majukan Morowali, Airlangga Serukan Pengentasan Masyarakat Terisolir

Pendapatan per kapita di Kabupaten Morowali sendiri sebesar Rp 920 juta atau U$ 60 ribu per tahun.

Editor: Regina Goldie
Handover
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto menyebut hadirnya kawasan industri hilirisasi nikel secara makro mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi di Bumi Tepe Asa Moroso. 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Syahril

TRIBUNPALU.COM, MOROWALI - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto menyebut hadirnya kawasan industri hilirisasi nikel mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi secara makro di Bumi Tepe Asa Moroso.

Bahkan Airlangga Hartarto mengatakan, pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Morowali melesat 4 kali lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional.

Baca juga: 
Parade Budaya Nusantara di Morut, Bupati Delis : Peran Kader PKK Penting Wujudkan Masyarakat Cerdas

"Diharapkan dengan ini bisa lebih meningkat," ucap Airlangga Hartarto dalam sambutannya pada ground breaking Smelter HPAL Neo Energy di kawasan NEMIE.

Pendapatan per kapita di Kabupaten Morowali sendiri sebesar Rp 920 juta atau U$ 60 ribu per tahun.

Jika merujuk pada angka ini, Kabupaten Morowali disebut telah lepas dari middle income trap sebuah istilah dalam dunia ekonomi yang menunjukan suatu perekonomian yang mengalami penurunan ekonomi dinamis yang tajam setelah bertransisi dari status berpenghasilan rendah ke menengah.

Baca juga: 
Pastikan Kesiapan Fisik Kawal Tahapan Pilkada 2024, Personel Polres Morowali Jalani Tes Kesehatan

Perangkap pendapatan menengah (middle income trap) adalah suatu keadaan ketika suatu negara berhasil mencapai tingkat pendapatan menengah, tetapi tidak dapat keluar dari tingkatan tersebut untuk menjadi negara maju.

"Industri ini memang menopang pertumbuhan ekonomi, namun di sisi lain masih ada masyarakat yang terisolir di Morowali. Oleh karena itu, angka kemiskinan ekstrim dan masyarakat terisolir ini harus hilang dari Sulawesi Tengah," papar Airlangga Hartarto.

Ada tiga cara untuk menghilangkan hal itu sambung Airlangga, yakni pendidikan, kesehatan dan industri menyediakan lapangan kerja. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved