Rabu, 15 April 2026

Palu Hari Ini

Peringati 6 Tahun Trilogy Bencana Pasigala, INTI Sulteng Aksi Tabur Bunga di Pantai Palu

Sejumlah pengurus Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Sulawesi Tengah (Sulteng) memperingati Trilogy bencana maha dahsyat gempa bumi, tsunami, dan l

Penulis: Zulfadli | Editor: Haqir Muhakir
Handover
Sejumlah pengurus Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Sulawesi Tengah (Sulteng) memperingati Trilogy bencana maha dahsyat gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi yang terjadi di lembah Palu-Sigi-Donggala (Pasigala), enam tahun silam. 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Zulfadli

TRIBUNPALU.COM, PALU - Sejumlah pengurus Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Sulawesi Tengah (Sulteng) memperingati Trilogy bencana maha dahsyat gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi yang terjadi di lembah Palu-Sigi-Donggala (Pasigala), enam tahun silam.

Peringatan ditandai dengan menabur bunga di pantai Palu Barat, Sabtu (28/9/2024) pagi, persis enam tahun bencana yang menelan banyak korban jiwa.

Sebelum melakukan aksi tabur bunga, seluruh peserta terlebih dulu melakukan doa bersama yang dipimpin oleh Charles Amin untuk mendoakan para korban bencana 6 tahun yang lalu.

Selain Rudy Wijaya dan Charles Amin, antara lain juga hadir pengurus INTI lainnya, Dolof Tirayo, Williem Chandra, Reinhard, Tasman Banto, Ayudia Kusuma, dan Friska Amin.

Baca juga: Korban Kebakaran di Emea Wita Ponda Morowali Dibangunkan Hunian Semi Permanen Oleh Pemerintah

Ketua INTI Sulteng, Rudy Wijaya sebelumnya mengatakan, peringatan bencana gempa, tsunami, dan likuefaksi itu sudah rutin digelar INTI setiap tahunnya. 

Peringatan ini menurutnya, bukan untuk membuka kembali kenangan sedih bagi korban yang selamat, keluarga yang ditinggalkan serta masyarakat Palu, Sigi, dan Donggala pada umumnya.

“Hari ini kita hadir di sini bukan untuk membuka kembali kenangan sedih saat musibah gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi enam tahun yang lalu. Akan tetapi untuk memberikan doa dan mengagungkan kebesaran dan kekuasaan Tuhan. Semoga arwah para korban diterima di sisiNYA, dan mudah-mudahan doa kita dikabulkan-Nya,” kata Rudy Wijaya.

Menurutnya, enam tahun sejak musibah yang merenggut banyak korban jiwa tersebut berlalu, tentu berbagai kenangan masih terukir di benak warga kota, Namun yang patut disyukuri, hari ini Kota Palu, Sigi, dan Donggala dan masyarakatnya telah kembali bangkit bersama.

“Hal ini dapat kita lihat dengan berbagai pembangunan baik fisik, sosial dan masyarakat yang terus berinovasi,” ujar Rudy Wijaya.

Ia pun berharap, dengan mengenang enam tahun gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi hendaknya dapat diambil hikmahnya bahwa semua peristiwa dan bencana yang terjadi di atas bumi dan alam semesta ini, tidak ada yang terjadi begitu saja dengan sendirinya, melainkan sesuai kehendak dan ketentuan Tuhan.

Tetapi meskipun begitu, di samping senantiasa harus berdoa dan bertawakkal, upaya untuk terus menerus mempersiapkan diri dalam menghadapi gempa dan tsunami, likuefaksi atu bencana lainnya wajib juga dilakukan. 

“Mari kita perluas pengetahuan kita tentang kesiapsiagaan bencana, jalur dan tata cara evakuasi. Semuanya itu bermuara untuk meminimalisir jumlah korban dan kerusakan yang mungkin timbul,” pesan Rudy.

Perkenalkan Buku Likuefaksi

Usai tabur bunga, pengurus INTI Sulteng lainnya, Tasman Banto memperkenalkan bukunya berjudul Likuefaksi Palu Menggemparkan Dunia. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved