Sabtu, 6 Juni 2026

OPINI

IMIP dan Peradaban Baru Indonesia

Fakta ini menunjukkan bahwa hilirisasi bukanlah wacana, melainkan kenyataan yang berdampak nyata bagi kehidupan masyarakat.

Tayang:
Editor: mahyuddin
HANDOVER
Andika, Pengamat Kebijakan Pembangunan dan Transformasi Industri 

Andika

Pengamat Kebijakan Pembangunan dan Transformasi Industri

TRIBUNPALU.COM - Jumlah Tenaga Kerja di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) per Mei 2025 mencapai 85.423 orang.

Angka itu bukan sekadar data statistik, melainkan tonggak sejarah bagi transformasi ekonomi Indonesia dari ekonomi berbasis ekstraksi menuju hilirisasi berbasis industri.

IMIP kini menjadi kawasan industri dengan pertumbuhan tenaga kerja tercepat di Asia Tenggara.

Pada 2020, jumlah pekerjanya baru sekitar 35.000 orang.

Angka itu melonjak menjadi lebih dari 80.000 pada 2024, dan kini menembus 85.000.

Bahkan, angka ini melampaui penyerapan angkatan kerja Sulawesi Tengah selama satu dekade terakhir.

Fakta ini menunjukkan bahwa hilirisasi bukanlah wacana, melainkan kenyataan yang berdampak nyata bagi kehidupan masyarakat.

Transformasi itu membawa nilai tambah bukan hanya dari sisi produk, tetapi juga dalam penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi daerah, dan perluasan ekosistem industri nasional.

Dari Ekstraktif ke Industrialisasi

Teori transformasi struktural yang dikemukakan Arthur Lewis maupun Justin Lin menunjukkan bahwa negara-negara berkembang bisa mengalami lonjakan pertumbuhan apabila mampu mengalihkan Tenaga Kerja dari sektor produktivitas rendah ke sektor produktivitas tinggi. IMIP adalah contoh konkritnya.

Namun, hilirisasi bukan tujuan akhir. Indonesia tidak cukup hanya menjadi produsen logam olahan atau bahan baku baterai.

Yang dibutuhkan kini adalah kawasan industri lanjutan yang mampu menyerap hasil dari hilirisasi sebagai input untuk produk industri lebih kompleks, seperti baterai, kendaraan listrik, peralatan energi terbarukan, hingga semikonduktor.

Indonesia tidak memerlukan banyak kawasan hilirisasi sejenis di tempat yang sama.

Yang dibutuhkan adalah transformasi dari hilirisasi menuju industrialisasi penuh, yang menciptakan nilai tambah lebih tinggi dan memperkuat daya saing teknologi bangsa.

Menjaga Momentum

Harus disadari bahwa tidak semua pihak senang dengan keberhasilan ini.

Banyak pihak, baik dalam maupun luar negeri, yang lebih diuntungkan jika Indonesia tetap mengekspor bahan mentah dan bergantung pada produk jadi dari luar.

Isu lingkungan, tekanan perdagangan, hingga narasi-narasi negatif terhadap hilirisasi kerap digunakan untuk menghambat proses ini.

Oleh karena itu, negara harus hadir bukan hanya sebagai fasilitator investasi, tetapi sebagai pelindung kebijakan transformasi industri nasional.

Momentum ini harus dijaga dengan kebijakan yang konsisten, dukungan terhadap riset dan inovasi, serta pendidikan vokasi yang terintegrasi dengan kebutuhan industri.

Daerah membutuhkan infrastruktur kebijakan yang menopang transisi menuju ekonomi berteknologi tinggi dan rendah karbon.

Peradaban Baru

Melalui IMIP, Indonesia telah menunjukkan bahwa kita mampu membangun basis industri modern di luar Pulau Jawa.

Ini adalah pondasi awal bagi pembangunan peradaban baru yang berbasis pada nilai tambah, teknologi, dan kemandirian.

Kita memiliki sumber daya alam strategis, tenaga kerja muda yang besar, dan posisi geopolitik yang menguntungkan.

Tantangan berikutnya adalah mengorkestrasi seluruh kekuatan ini ke dalam visi industrialisasi nasional jangka panjang.

Seperti dikatakan Alexander Gerschenkron, negara-negara yang terlambat memulai industrialisasi justru memiliki peluang lebih besar untuk melompat, jika mampu mengambil keputusan strategis secara berani. Indonesia memiliki peluang itu hari ini. Jangan sia-siakan.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved