Ekonomi Digital Jadi Fokus Negosiasi Baru Indonesia–Amerika Serikat
Secretary of Commerce Howard Lutnick dan United States Trade Representative (USTR) Jamieson Greer di Washington, D.C.
TRIBUNPALU.COM - Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) sepakat mempercepat proses perundingan tarif dagang bilateral dalam waktu tiga pekan ke depan.
Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan tingkat tinggi antara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dengan U.S.
Secretary of Commerce Howard Lutnick dan United States Trade Representative (USTR) Jamieson Greer di Washington, D.C.
Pertemuan ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat hubungan ekonomi dua negara yang selama ini telah terjalin erat, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan perlambatan ekonomi dunia.
“Kami telah mencapai titik kesepahaman yang kuat dengan Pemerintah AS mengenai arah dan substansi perundingan. Dalam tiga minggu ke depan, tim dari kedua negara akan bekerja secara intensif untuk menyelesaikan negosiasi dengan prinsip saling menguntungkan,” ujar Airlangga Hartarto dalam keterangannya.
Baca juga: Presiden Prabowo dan Presiden Brazil Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Strategis
Menyikapi Kebijakan Dagang Global AS
Langkah ini menyusul pengumuman Presiden AS Donald Trump pada 7 Juli 2025 yang menyatakan kebijakan peninjauan ulang atas skema tarif dagang dengan sejumlah negara mitra.
Indonesia menjadi salah satu negara pertama yang diberi kesempatan untuk merespons langsung kebijakan tersebut, yang menjadi bagian dari strategi baru AS dalam menyeimbangkan neraca perdagangan dan mengurangi ketergantungan impor dari negara-negara tertentu.
Dengan latar belakang tersebut, Indonesia melihat momen ini sebagai peluang untuk memperkuat posisi tawarnya, sekaligus membuka jalan bagi peningkatan akses pasar produk unggulan nasional ke pasar Amerika.
Baca juga: BREAKINGNEWS: Sopir Diduga Ngantuk, Truk Tabrak Mobil Tronton di Nambo Banggai
Isu-isu Kunci yang Dinegosiasikan
Dalam negosiasi tersebut, sejumlah isu strategis dibahas secara komprehensif, termasuk:
- Pengurangan dan harmonisasi tarif dagang atas produk unggulan seperti tekstil, produk pertanian, otomotif, dan produk berbasis teknologi.
- Hambatan non-tarif yang selama ini menjadi kendala ekspor Indonesia ke AS.
- Kerja sama ekonomi digital, termasuk regulasi platform digital dan perlindungan data lintas negara.
- Penguatan keamanan ekonomi, terkait rantai pasok global dan perlindungan infrastruktur vital.
- Investasi bilateral dan insentif fiskal, terutama di sektor energi, manufaktur, dan teknologi hijau.
Airlangga menekankan bahwa Indonesia akan mengedepankan pendekatan yang inklusif dan berorientasi jangka panjang, dengan melibatkan pelaku usaha, asosiasi industri, serta pemangku kepentingan strategis lainnya.Baca juga: Kumpulan Motto Hidup untuk MPLS 2025 yang Unik, Lucu, Kreatif & Out of The Box, Cek di Sini
Potensi Besar di Sektor Mineral Kritis
Salah satu topik penting dalam pembahasan adalah peluang kerja sama di sektor mineral kritis.
| Fenomena Super Flu Meningkat di Indonesia, Begini Gejala dan Pencegahannya |
|
|---|
| HUT ke-54, Korpri Banggai Kunjungi Panti Asuhan di Luwuk |
|
|---|
| Dukung Ketahanan Pangan, PT Vale Salurkan 617 Sak Pupuk di Desa Huko-Huko Kolaka |
|
|---|
| Hannah Asa Indonesia Rayakan Milad ke-3, Sukses Edukasi 15.700 Penerima Manfaat di 2025 |
|
|---|
| PII Sulteng Resmi Miliki Nakhoda Baru, Andi Mahardika Putra Pimpin Periode 2025–2027 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/dy89asyd89sa-y89dsy-a89y-d89adasas.jpg)