Kamis, 4 Juni 2026

Sulteng Hari Ini

Bibit Buruk dan Minim Perawatan, Ini Masalah Serius Kakao Sulteng

Namun demikian, peluang juga terbuka luas melalui pelatihan petani, diversifikasi produk olahan, sertifikasi organik.

Tayang:
Editor: Regina Goldie
Ro Adpim Setdaprov Sulteng
TANTANGAN PETANI KAKAO SULTENG - Wakil Gubenur Sulawesi Tengah, Reny A Lamadidjo menyoroti beberapa tantangan komoditas Kakao Sulteng. 

TRIBUNPALU.COM, PALU – Wakil Gubenur Sulawesi Tengah, Reny A Lamadidjo menyoroti beberapa tantangan komoditas Kakao Sulteng.

Tantangan tersebut berupa penggunaan bibit berkualitas rendah, minimnya perawatan tanaman, keterbatasan akses pasar, serta dampak perubahan iklim.  

Namun demikian, peluang juga terbuka luas melalui pelatihan petani, diversifikasi produk olahan, sertifikasi organik, hingga pemanfaatan pemasaran digital.

Reny A Lamadjido juga mendorong petani Kakao tak hanya menjual namun mengolah sendiri hasil Kakaonya secara masif.

Hal itu diungkapkannya saat membuka secara resmi Focus Group Discussion (FGD) bertema Sinergi Pengembangan Ekosistem Kakao di Provinsi Sulawesi Tengah, yang digelar di Sriti Convention Hall, Kota Palu, Senin (4/8/2025).

Baca juga: Donggala Boxing Champions Cup II Akan Digelar 1-5 September di Desa Tanah Mea

Reny menegaskan bahwa Kakao merupakan komoditas strategis Sulteng yang berperan penting dalam perekonomian daerah. 

Selain menyumbang pendapatan bagi petani, sektor ini dinilai punya potensi besar mendorong pertumbuhan ekonomi dan daya saing di pasar nasional maupun internasional.

“Kita memiliki tanah yang subur dan iklim yang mendukung. Dengan sinergi lintas sektor, Sulteng bisa menjadi salah satu sentra Kakao berkualitas terbaik di Indonesia,” ujar Reny.

FGD ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam pengembangan sektor Kakao sebagai komoditas unggulan daerah.

Baca juga: Pemkab Buol Gelar Pasar Murah, Sediakan Sembako Harga Subsidi

FGD tersebut menjadi ajang bagi berbagai pihak untuk berbagi pengetahuan, mengidentifikasi tantangan, serta merumuskan strategi pengembangan ekosistem Kakao secara berkelanjutan.

FGD ini diinisiasi oleh Bank Indonesia bersama Kementerian Koperasi dan UKM, dan diharapkan melahirkan langkah konkret untuk memperkuat posisi Sulteng sebagai salah satu penghasil Kakao unggulan nasional, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

Menutup sambutannya, Reny mengapresiasi seluruh peserta atas partisipasi dan komitmennya dalam mendukung penguatan ekosistem Kakao di daerah.

“Mari kita jadikan FGD ini sebagai momentum sinergi nyata. Dengan kolaborasi yang kuat, kita mampu membangun ekosistem Kakao yang tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan demi Sulteng Nambaso,” pungkasnya.

Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulteng Rony Hartawan, Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian Koperasi dan UKM Bagus Rachman, Sekretaris Badan Bank Tanah Jarot Wahyu Wibowo, serta Ketua Perkumpulan Petani Kakao Terintegrasi Ruslan. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved