Senin, 27 April 2026

Ramadan 2026

Awal Ramadan Muhammadiyah 2026 Jatuh pada 18 Februari, Berikut Jadwal Imsak dan Buka

Umat Islam yang mengikuti keputusan ini dapat mempersiapkan diri lebih awal, baik secara spiritual maupun fisik, untuk menyambut bulan suci.

Editor: Fadhila Amalia
Freepik
ILUSTRASI PUASA RAMADAN - Foto ini diambil dari Freepik pada Rabu (19/2/2025). Foto ini menunjukkan ilustrasi puasa Ramadan 2025. Temukan makna Tarhib Ramadhan dan cara menyambut bulan suci dengan gembira, dalam konteks persiapan spiritual dan sosial umat Islam. 

Ringkasan Berita:
  • Muhammadiyah menetapkan awal puasa Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
  • Jadwal ibadah Ramadan menurut Muhammadiyah: Imsak 04.32 WITA, Subuh 04.42 WITA, Dzuhur 12.05 WITA, Ashar 15.21 WITA, Maghrib (buka puasa) 18.17 WITA, Isya 19.28 WITA.
  • Muhammadiyah mengimbau umat Muslim menjalankan puasa dengan kesadaran, menjaga kesehatan, memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an, dan melakukan kegiatan sosial selama Ramadan.

TRIBUNPALU.COM - Muhammadiyah resmi menetapkan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Keputusan ini disampaikan setelah melalui pengamatan rukyah dan perhitungan hisab yang dilakukan secara nasional.

Penetapan ini sejalan dengan upaya Muhammadiyah untuk memberikan kepastian waktu ibadah bagi umat Muslim di Indonesia.

Baca juga: MUI Kota Palu Ajak Umat Kedepankan Tasamuh Sikapi Penetapan Awal Ramadan 1447 H

Penentuan awal Ramadan oleh Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal.

Metode ini merupakan sistem perhitungan astronomi yang akurat untuk menentukan posisi Bulan secara nyata.

Perhitungan dilakukan dengan melihat data pergerakan Bulan dan Matahari, sehingga hasilnya bisa diketahui jauh hari sebelum bulan Ramadan tiba.

Hisab hakiki wujudul hilal yang digunakan Muhammadiyah mengacu pada sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Sistem ini bertujuan menciptakan kesatuan kalender Islam secara global, sehingga umat Islam di berbagai belahan dunia memiliki acuan waktu yang sama.

Dengan pendekatan ini, awal bulan Hijriah tidak lagi bergantung pada perbedaan lokasi geografis semata, tetapi pada prinsip astronomi yang berlaku universal.

Secara teknis, metode ini menetapkan awal bulan Hijriah apabila telah terjadi ijtima’ atau konjungsi antara Bulan dan Matahari sebelum matahari terbenam.

Selain itu, saat matahari terbenam, posisi Bulan harus berada di atas ufuk.

Baca juga: Diserbu Warganet Gara-gara Hapus Foto dengan Boiyen, Rully Akbar: Bebas Berkomentar

Kriteria tambahannya adalah piringan atas Bulan sudah berada di atas ufuk dengan ketinggian minimal 0,1 derajat.

Jika semua syarat ini terpenuhi, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai tanggal 1 bulan baru.

Muhammadiyah berpegang pada Pedoman Hisab Muhammadiyah dalam menetapkan awal Ramadan 1447 Hijriah.

Pedoman ini tidak hanya berdasar pada hitungan astronomi modern, tetapi juga mengintegrasikan dalil Al-Qur’an, khususnya QS. Yasin ayat 39–40, hadis Nabi, serta kaidah fikih.

Sumber: Tribun Palu
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved