Selasa, 28 April 2026

OPINI

OPINI : Begadang Tarawih, Bangun Sahur, Lalu Tumbang

Setelah tarawih, obrolan berlanjut, layar ponsel tetap menyala, dan “sebentar lagi” menjadi alasan untuk menunda istirahat.

Editor: Fadhila Amalia
Handover
OPINI - Ramadhan selalu membawa perubahan ritme. Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang. 

Oleh :
Prima Trisna Aji

Dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang

OPINI - Ramadhan selalu membawa perubahan ritme.

Masjid lebih hidup, silaturahmi lebih hangat, dan malam terasa lebih panjang.

Namun di banyak rumah, perubahan itu juga berarti satu hal: jam tidur yang bergeser pelan-pelan hingga lewat tengah malam.

Setelah tarawih, obrolan berlanjut, layar ponsel tetap menyala, dan “sebentar lagi” menjadi alasan untuk menunda istirahat.

Tak lama kemudian, alarm sahur berbunyi.

Tubuh bangun dalam keadaan belum benar-benar pulih.

Siang harinya, keluhan pun muncul: lemas, sulit fokus, emosi lebih pendek, kepala berat dan sebagian benar-benar tumbang.

Kita sering menganggap situasi ini sebagai bagian dari suasana Ramadhan.

Seolah- olah kelelahan adalah harga yang harus dibayar demi ibadah malam.

Padahal dari sudut pandang kesehatan, tubuh tidak pernah menganggap kurang tidur sebagai hal biasa.

Meta-analisis kohort terbaru menunjukkan bahwa durasi tidur yang pendek berkaitan dengan peningkatan risiko hipertensi.

Risiko ini tidak kecil, dan tidak hanya terjadi pada kelompok usia lanjut.

Kondisi tersebut menjadi semakin relevan di Indonesia. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan hipertensi kini tidak lagi identik dengan usia tua; kelompok usia 18-24 tahun pun sudah mencatat prevalensi dua digit, dan meningkat signifikan pada rentang 25-34 tahun.

Sumber: Tribun Palu
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved