OPINI
Lebih dari Sekadar Kenyang: Makan Bergizi Gratis dan Perubahan Perilaku Anak
Perdebatan publik pun tak jauh dari hitung-hitungan biaya, menu, dan siapa yang bertanggung jawab jika makanan terlambat datang.
Oleh: M. Hery Yuli Setiawan, S.Pd., M.Pd
Dosen PGPAUD Universitas Slamet Riyadi
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret.
OPINI - Di Indonesia, program Makan Bergizi Gratis (MBG) sering dipahami sebatas urusan anggaran, dapur umum dan distribusi makanan.
Perdebatan publik pun tak jauh dari hitung-hitungan biaya, menu, dan siapa yang bertanggung jawab jika makanan terlambat datang.
Padahal, jauh sebelum program ini dinilai berhasil atau gagal secara administratif, MBG sesungguhnya sedang menyentuh wilayah yang jauh lebih mendasar: perilaku anak.
Di tengah pemberitaan tentang kesiapan logistik, kualitas bahan makanan, hingga kekhawatiran pemborosan anggaran, ada satu pertanyaan penting yang jarang kita ajukan bersama: apa yang sebenarnya berubah pada anak ketika mereka makan dengan cukup dan bergizi setiap hari?
Selama ini, kita kerap mengaitkan perilaku anak yang sulit diatur, mudah marah, atau tidak fokus semata-mata pada pola asuh dan metode pembelajaran.
Kita lupa satu faktor penting yang sering terabaikan: perut yang lapar.
Bagi anak, lapar bukan sekadar kondisi fisik. Lapar adalah rasa tidak aman.
Lapar membuat emosi mudah meledak, konsentrasi mudah pecah, dan interaksi sosial menjadi kasar.
Anak yang lapar sulit diminta bersabar, apalagi berempati.
Seorang guru sekolah dasar di Klaten menceritakan pengalamannya pada awal pelaksanaan
MBG.
Sebelum program berjalan, beberapa murid sering bertengkar di jam-jam awal pelajaran.
Mereka mudah tersinggung dan sulit fokus.
Namun, setelah beberapa minggu mendapatkan makan bergizi secara rutin, suasana kelas perlahan berubah.
Anak-anak lebih tenang, jarang menangis tanpa sebab, dan lebih mampu mengikuti aturan kelas.
Perubahan itu tidak terjadi karena ceramah panjang tentang disiplin, tetapi karena kebutuhan
dasar mereka terpenuhi.
Anak belajar mengendalikan diri ketika tubuhnya tidak sedang berjuang melawan rasa lapar.
Dalam psikologi perkembangan, pemenuhan kebutuhan fisiologis merupakan fondasi bagi berkembangnya kontrol emosi dan perilaku sosial.
Tanpa itu, tuntutan disiplin sering kali hanya menjadi tekanan tambahan.
Namun, MBG juga menghadapi tantangan nyata.
Banyak anak yang belum terbiasa dengan menu sehat.
Sayur sering disisihkan, lauk tertentu hanya dicicipi, lalu ditinggalkan.
Setelah makan, sebagian anak masih mencari jajanan manis di luar sekolah.
Ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku makan tidak bisa terjadi secara instan.
Anak meniru sebelum mereka mengerti.
Jika di rumah mereka terbiasa dengan makanan instan dan minuman berpemanis, maka menu sehat di sekolah akan terasa asing.
Di sinilah MBG seharusnya tidak berhenti sebagai program pemberian makanan, tetapi menjadi sarana
edukasi perilaku hidup sehat yang melibatkan guru dan orang tua.
Meski begitu, dampak positifnya tidak bisa diabaikan.
Makan bersama di sekolah melatih anak untuk antre, berbagi, duduk tertib, dan membersihkan tempat makan.
Aktivitas sederhana ini membentuk perilaku prososial yang selama ini sulit diajarkan hanya lewat nasihat.
Anak-anak juga mulai mengenal rasa kenyang yang wajar, bukan kenyang semu dari jajanan tinggi gula.
Perlahan, mereka belajar bahwa makan bukan sekadar mengisi perut, tetapi bagian dari merawat diri.
Jika dikelola dengan sungguh-sungguh, MBG bukan hanya program gizi, melainkan investasi pembentukan karakter.
Anak yang kenyang dengan gizi seimbang lebih siap belajar, lebih stabil emosinya, dan lebih mudah diarahkan perilakunya.
Pada akhirnya, keberhasilan Makan Bergizi Gratis tidak boleh hanya diukur dari jumlah porsi dibagikan atau besarnya anggaran yang terserap.
Keberhasilan sejatinya terletak pada satu hal sederhana namun mendasar: apakah anak-anak kita tumbuh menjadi pribadi yang lebih tenang, lebih peduli, dan lebih siap belajar.
Karena dari perilaku anak hari ini, kita sedang menyiapkan wajah bangsa di masa depan.(*)
| Belajar dari Kaltim: Ketika Anggaran Diuji Empati Publik |
|
|---|
| Ketika Sertifikat Menjadi Senjata Pelumpuh Hak Rakyat di Bumi Tadulako |
|
|---|
| Semiotika Pesan Komunikasi Politik JK: Termul Jual, JK Beli |
|
|---|
| Melawan Reduksi Kebenaran di Ruang Siber: Sikap Rektor UMI dalam Menjaga Marwah Negarawan |
|
|---|
| Catatan dari Tanah Poso dan Morut: Menjaga Soliditas Organisasi Lewat Ruang Dialog |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Program_Makan_Bergizi_Gratis__MBG__telah_dicetuskan_oleh_Presiden_Republik_Indonesia_Prabowo_Subjpg.jpg)