Valas Hari Ini
Rupiah Dekati Rp17.000 per Dolar AS, Harga Barang Impor Akan Terpengaruh
Pada perdagangan kemarin, rupiah berakhir melemah 20 poin, tercatat di level Rp16.892, turun dari posisi sebelumnya di Rp16.872 per dolar AS.
Ringkasan Berita:
- Pada Kamis (5/3/2026), rupiah diperkirakan akan melemah lagi, diprediksi berada di rentang Rp16.890 hingga Rp16.940 per dolar AS.
- Rupiah ditutup melemah 20 poin pada level Rp16.892, turun dari Rp16.872 per dolar AS.
- Pelemahan rupiah akan menyebabkan kenaikan harga barang impor, seperti BBM, kedelai, barang elektronik, dan komoditas lainnya. Produk seperti tempe dan tahu juga bisa terdampak.
TRIBUNPALU.COM - Pada perdagangan hari ini, Kamis (5/3/2026), nilai tukar Rupiah diperkirakan akan kembali melemah, didorong oleh sentimen negatif yang masih tinggi.
Pada perdagangan kemarin, Rupiah berakhir melemah 20 poin, tercatat di level Rp16.892, turun dari posisi sebelumnya di Rp16.872 per dolar AS.
Menurut Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi, hari ini Rupiah diprediksi akan mengalami fluktuasi, tetapi berpotensi ditutup melemah di rentang Rp16.890 hingga Rp16.940.
Ibrahim juga memperkirakan bahwa Rupiah dapat menembus level Rp17.000 per dolar AS pada bulan Maret 2026, dan tren pelemahan ini mungkin akan berlanjut hingga akhir tahun. "Jika Rupiah tembus di Rp17.000 bulan ini, maka target Rp17.400 tahun ini bisa tercapai," ujarnya.
Baca juga: IHSG Turun Tajam 4,57 Persen di Tengah Sentimen Negatif Global dan Domestik
Faktor yang Menekan Rupiah
Ada beberapa faktor yang menyebabkan investor menjual Rupiah, yang akhirnya berdampak pada pelemahan mata uang ini. Faktor eksternal yang turut memberikan tekanan berasal dari ketegangan di Timur Tengah yang semakin meluas.
Ibrahim menambahkan, para pelaku pasar memperhitungkan risiko konflik yang bisa semakin memburuk, mengingat tindakan Israel bersama Amerika Serikat yang melancarkan serangan tambahan ke Iran.
Selain itu, Teheran juga mengancam untuk menargetkan kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz, jalur yang vital bagi pengiriman minyak global.
"Ancaman terhadap Hormuz, jalur penting bagi ekspor minyak mentah dari negara-negara penghasil utama seperti Arab Saudi, Irak, dan Uni Emirat Arab, telah menyebabkan lonjakan premi risiko geopolitik dalam harga minyak," ujar Ibrahim.
Dari sisi domestik, sentimen negatif muncul setelah lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings merevisi prospek (outlook) utang Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Baca juga: Sulawesi Tengah Percepat Penurunan Kemiskinan dengan Aplikasi Berani Tampak
Meskipun demikian, peringkat kredit jangka panjang dalam mata uang asing (Long-Term Foreign Currency Issuer Default Rating/IDR) Indonesia tetap berada di level BBB.
Ibrahim menjelaskan bahwa revisi outlook ini mencerminkan ketidakpastian yang meningkat terkait kebijakan ekonomi, serta kekhawatiran terhadap konsistensi dan kredibilitas kebijakan ekonomi Indonesia yang semakin terpusat.
"Kondisi ini dapat menekan prospek fiskal jangka menengah, melemahkan sentimen investor, dan memberi tekanan terhadap ketahanan eksternal," ujarnya.
| Nilai Tukar Rupiah Menguat Senin 26 Januari 2026, Capai Rp16.768 per USD |
|
|---|
| Menteri Keuangan Purbaya: Pelemahan Rupiah Tak Akan Berujung Krisis Ekonomi |
|
|---|
| Rupiah Menguat Berada di Level Rp16.929 per Dolar AS Kamis 22 Januari 2026 |
|
|---|
| Nilai Tukar Rupiah Tembus Level Terendah Sejak 1988, Berkisar Rp 16.976 |
|
|---|
| Rupiah Melemah Terhadap Semua Mata Uang ASEAN, Terus Tertekan di Awal Tahun 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/update-terkini-kurs-rupiah-dollar-as-jumat-27-agustus-2021-ini-nilai-tukar-di-5-bank.jpg)