OPINI
Transformasi Sosial dalam Festival Sastra
Di sisi lain, outputnya yang tidak selalu tampak dalam ukuran-ukuran ekonomi membuat festival sastra kerap dicap kegiatan tanpa efek.
Penulis: Alisan | Editor: Fadhila Amalia
OPINI
Oleh:
Reza Nufa
Kurator Festival Sastra Banggai
TRIBUNPALU.COM - Setelah Festival Sastra Banggai (FSB) kesembilan usai, RTH Teluk Lalong Luwuk kembali sunyi sebagaimana lumrahnya.
FSB seolah lenyap begitu saja. Namun, seperti kerikil yang jatuh di kulit air, ia lesap dan momentumnya menciptakan gema yang merayap jauh di permukaan air. Suara-suara dari festival sastra ini tak pernah benar-benar hilang.
Sebuah festival sastra adalah benih yang ditanam dalam tubuh sebuah masyarakat.
Diskusi, workshop, dan talkshow yang telah usai itu mengambil bentuk lain yang lebih personal.
Para peserta akan mulai memaknai ulang semua perbincangan itu dalam dirinya sendiri, membentuk cara pandang dan cara kerja baru dalam hidup.
Ia kemudian tumbuh dalam bentuk pemahaman yang lebih mendalam tentang diri dan lingkungan sosial.
Proses ini akan terus berlanjut selama perbincangannya dipertahankan.
Memang tidak instan, tapi proses yang panjang itu bisa berarti satu hal: kita sedang memahat sesuatu yang keras dan akhirnya akan bertahan lama.
Di sisi lain, outputnya yang tidak selalu tampak dalam ukuran-ukuran ekonomi membuat festival sastra kerap dicap kegiatan tanpa efek.
Padahal, sebuah festival sastra sejatinya bukan pasar barang, melainkan pasar gagasan.
Ia menyebarkan nilai-nilai. Dan ia tidak hanya mengangkat sastra sebagai bentuk ekspresi, melainkan juga arena untuk membuka perbincangan lain yang tak kalah penting: ekologi, sejarah, antropologi, pendidikan, dan inklusivitas.
Melalui berbagai diskusi yang dihadirkan, festival ini menyentuh kesadaran masyarakat tentang isu-isu sosial yang lebih besar.
Sebuah proses yang memperkenalkan gagasan untuk menantang status quo, bahkan meredefinisi kembali pemahaman tentang kerja sosial, kerelawanan, dan bagaimana seni bisa dijadikan alat perubahan.
Dalam konteks ini, FSB berhasil menjadi semacam wadah ide, di mana para peserta diundang untuk berpikir lebih kritis dan konstruktif terhadap realitas sosial.
Namun, kita pula menyadari bahwa FSB punya tantangan besar. Kota Luwuk kental dengan budaya 'uang duduk', di mana masyarakat cenderung menghargai waktu dan energi hanya jika dikonversikan langsung menjadi uang.
Pandangan pragmatis tersebut menepikan potensi non-material yang sesungguhnya bisa didapat dari sebuah kegiatan kebudayaan, misalnya transformasi nilai, dan dalam tataran praktisnya bisa berbentuk wawasan, keterampilan, dan jejaring sosial.
Dan jika kita mau jujur, ketiga hal itu justru adalah pondasi bagi perubahan yang lebih berarti dalam jangka panjang.
FSB, dengan segala keterbatasannya, telah berhasil menunjukkan bahwa sebuah festival sastra tidak hanya berfungsi sebagai ajang hiburan atau keramaian saja, tetapi juga ruang untuk perenungan, pembelajaran, dan transformasi sosial.
Misalnya saja, keberhasilan FSB dalam mendorong lahirnya toko buku pertama di kota Luwuk. Hal itu adalah simbol dari pergerakan budaya yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Tidak berarti bahwa FSB adalah satu-satunya festival yang memiliki dampak positif di kawasan Banggai. Hanya saja, kita bisa bersetuju bahwa ia menawarkan sebuah perspektif berbeda tentang bagaimana perhelatan seni dan budaya seharusnya berjalan.
Apalagi kita tahu, tak semua keramaian dalam festival itu bersifat konstruktif—ada kalanya keramaian hanya menjadi kebisingan.
Dengan semua pencapaian dan tantangan yang ada, FSB tetap berkomitmen menjadi ruang yang menggugah kesadaran kolektif. Ia punya harapan besar untuk menjadikan ekosistem sastra sebagai instrumen yang lebih besar dalam pergerakan sosial masyarakat Luwuk.
Dan meskipun gema dari festival ini mungkin tak selalu terdengar keras, saya percaya bahwa ia akan terus menyebar dengan perlahan. (*)
| Belajar dari Kaltim: Ketika Anggaran Diuji Empati Publik |
|
|---|
| Ketika Sertifikat Menjadi Senjata Pelumpuh Hak Rakyat di Bumi Tadulako |
|
|---|
| Semiotika Pesan Komunikasi Politik JK: Termul Jual, JK Beli |
|
|---|
| Melawan Reduksi Kebenaran di Ruang Siber: Sikap Rektor UMI dalam Menjaga Marwah Negarawan |
|
|---|
| Catatan dari Tanah Poso dan Morut: Menjaga Soliditas Organisasi Lewat Ruang Dialog |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Transformasi-Sosial-dalam-Festival-Sastra.jpg)