Kamis, 9 April 2026

Sulteng Hari Ini

Dinkes Sulteng Pastikan Wabah Super Flu Tidak Perlu Dikhawatirkan Berlebihan

Istilah super flu muncul karena adanya peningkatan kasus influenza A(H3N2) subclade K di beberapa negara secara bersamaan. 

|
Editor: Fadhila Amalia
Andrey_Popov/Shutterstock via mnn.com
ILUSTRASI FLU - Masyarakat Sulawesi Tengah tidak perlu khawatir berlebihan terkait merebaknya wabah yang ramai disebut super flu. 
Ringkasan Berita:
  • Kemenkes RI mencatat 62 kasus influenza A(H3N2) subclade K atau “super flu” tersebar di 11 provinsi, dengan Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat sebagai daerah terbanyak.
  • Dinkes Sulawesi Tengah menegaskan belum ada kasus di wilayahnya, kondisi masih terkendali, dan kasus yang muncul masih termasuk peningkatan musiman.
  • Masyarakat diminta menjaga kesehatan, menerapkan PHBS, melakukan vaksinasi influenza bagi kelompok rentan, memakai masker bila kurang sehat.

TRIBUNPALU.COM, PALU – Masyarakat Sulawesi Tengah tidak perlu khawatir berlebihan terkait merebaknya wabah yang ramai disebut super flu.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan SultengJumriani, menegaskan istilah super flu hanyalah sebutan dari masyarakat awam, sementara virus yang menyebar merupakan strain influenza A(H3N2) subclade K sama seperti flu musiman biasa.

“Super flu itu sebenarnya istilah dari masyarakat awam karena penularannya agak lebih cepat. Padahal, sebenarnya sama dengan flu biasa,” kata Jumriani saat diwawancarai di Kantor Dinas Kesehatan Sulteng, Kamis (8/1/2026).

Baca juga: Kemenkes Catat 62 Kasus Super Flu Nasional, Dinkes Sulteng: Belum Ada Temuan, Kondisi Terkendali

Ia menjelaskan istilah super flu muncul karena adanya peningkatan kasus influenza A(H3N2) subclade K di beberapa negara secara bersamaan. 

Kemenkes Catat 62 Kasus Super Flu Nasional, Dinkes Sulteng: Belum Ada Temuan, Kondisi Masih Terkendali
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Sulteng,  Jumriani, saat diwawancarai di Kantor Dinas Kesehatan Sulteng, Kamis (8/1/2026).

Di Indonesia, hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus dengan penyebaran terbanyak di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

Sementara Sulawesi Utara termasuk daerah yang terlaporkan memiliki strain ini.

Meski demikian, Jumriani menegaskan bahwa di Sulawesi Tengah tidak ada peningkatan kasus signifikan.

“Ini masih termasuk peningkatan musiman karena saat ini musim hujan, dan tidak mengarah pada kondisi yang mengkhawatirkan,” ujarnya.

Baca juga: Disperindag Sigi Siapkan Program Unggulan 2026, Fokus Penguatan IKM dan Digitalisasi Produk Lokal

Gejala yang ditimbulkan virus ini sama seperti flu biasa, yakni demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan badan lemas.

Penanganannya pun tidak berbeda dengan flu musiman, tanpa perlakuan khusus atau spesifik.

Dinas Kesehatan Sulteng juga menepis kabar yang beredar di media sosial yang menyebut flu ini lebih parah daripada Covid-19.

“Itu tidak benar. Secara ilmiah tidak bisa dijelaskan bahwa flu ini lebih parah dari Covid-19,” jelas Jumriani.

Meskipun begitu, pihaknya tetap melakukan pengawasan di seluruh kabupaten dan kota.

Masyarakat diimbau menjaga kesehatan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), melakukan vaksinasi influenza terutama bagi ibu hamil, lansia, dan kelompok berisiko, serta segera memeriksakan diri jika mengalami gejala flu.

Baca juga: Komandan Lanal Palu Berkunjung ke Morowali Utara, Pererat Hubungan TNI AL dan Pemda

Bagi warga yang kurang sehat namun harus beraktivitas, penggunaan masker tetap dianjurkan. “Sampai saat ini, kondisi masih terkendali dan tidak ada hal yang perlu terlalu dikhawatirkan,” pungkas Jumriani.(*)

Sumber: Tribun Palu
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved