Jumat, 29 Mei 2026

Ramadan 2026

Menjelang Ramadan, Pemuda Karang Taruna Matano Morowali Dirikan Dengu-Dengu

Menara ini difungsikan khusus sebagai tempat membangunkan sahur selama bulan Ramadan. 

Tayang:
Penulis: Ismet Togean 20 | Editor: Regina Goldie
TribunPalu.com/Ismet Togean 20
Proses pembangunan dengu dengu, yang berada di kelurahan Matano, kecamatan Bungku Tengah, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, 

Ringkasan Berita:
  • Pemuda Karang Taruna Kelurahan Matano, Kabupaten Morowali, membangun Dengu-dengu menjelang bulan suci Ramadan.
  • Dengu-dengu adalah menara tradisional terbuat dari bambu dan papan, digunakan untuk membangunkan warga saat sahur selama Ramadan.
  • Proses pembangunan dilakukan secara gotong royong oleh pemuda, mulai dari pengambilan bahan hingga pembangunan menara.
  • Ini merupakan wujud kebersamaan dan persatuan di kalangan pemuda.

Laporan Wartawan Tribunpalu.com, Ismet 

TRIBUNPALU.COM, MOROWALI - Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Kelurahan Matano, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, mendirikan Dengu-dengu sebagai persiapan membangunkan warga saat sahur.

Dengu-dengu merupakan bangunan menara tradisional yang terbuat dari bambu dan papan. 

Menara ini difungsikan khusus sebagai tempat membangunkan sahur selama bulan Ramadan

Proses pendiriannya dilakukan secara gotong royong, mulai dari pengambilan bahan hingga tahap pembangunan, sebagai wujud kebersamaan dan persatuan pemuda.

Baca juga: Aktivis Muhammad Israful Hidayah Soroti Pembubaran Pegawai Syara Parimo Tanpa Pelibatan BPD

Ketua Karang Taruna Kelurahan Matano, Faturrahman mengatakan pendirian Dengu-dengu merupakan agenda rutin yang dilakukan setiap menjelang Ramadan.

Dengu-dengu sebagai bentuk pelestarian budaya lokal sekaligus sarana mempererat solidaritas pemuda.

“Tradisi Dengu-dengu ini sudah dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Matano. Kami sebagai generasi muda merasa memiliki tanggung jawab untuk terus melestarikannya,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan tersebut tidak hanya bernilai religius, tetapi juga mengajarkan semangat gotong royong dan kebersamaan di tengah masyarakat.

Tradisi Dengu-dengu sendiri telah ada sejak masa Kerajaan Bungku, dulunya di gunakan sebagai alat komunikasi.

Baca juga: Pembubaran Pegawai Syara, Muhammad Israful Hidayah Desak Keterbukaan Kepala Desa Parimo

Kini, Dengu-dengu menjadi bagian integral dari Ramadan, berfungsi untuk membangunkan warga untuk makan sahur.
 
Hingga kini masih terus dilestarikan sebagai bagian dari kearifan lokal masyarakat Suku Tobungku mendiami wilayah Morowali.

Secara fisik, Dengu-dengu berupa menara bambu setinggi sekitar 5 hingga 20 meter yang beratapkan rumbia. 

Menara ini didirikan di hampir setiap RT, umumnya di sekitar masjid, dengan menggunakan tiang bambu dan atap daun rumbia, sehingga mudah dijangkau dan suaranya dapat terdengar hingga ke permukiman warga.

Sumber: Tribun Palu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved