Sabtu, 9 Mei 2026

Pernah Bertemu dengan Presiden Afghanistan, Joko Widodo Ingatkan Indonesia untuk Belajar Hal Ini

Presiden Joko Widodo terus mengulang cerita pertemuannya dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani dan ibu negara Rula Ghani dalam beberapa kesempatan.

Tayang:
TribunNews.com/Herudin
Presiden Joko Widodo 

Ratusan juta ini terdiri dari 714 suku yang tersebar di 34 provinsi yang di dalamnya terdapat 514 kota/kabupaten.

Bahasa lokal di Indonesia ada lebih dari 1.100, belum lagi perbedaan agama, tradisi dan adat istiadat.

"Oleh sebab itu, hati-hati. Jangan sampai ada konflik sekecil apa pun. Itu juga pesan dari Ibu Rula Ghani. Kata Beliau, cepat selesaikan kembali kalau ada konflik sekecil apa pun, rukunkan kembali. Beliau sampaikan itu sambil menitikkan air mata," kenang Jokowi.

Melihat kondisi di tahun politik ini, Jokowi mengaku cukup was-was.

Ia prihatin karena ada yang hanya gara-gara berbeda pilihan politik, bertengkar, tidak saling sapa, saling mencaci dan lain sebagainya.

"Kita tidak seperti saudara sebangsa setanah air," ujar Jokowi.

Oleh karena itu, Presiden mengajak seluruh rakyat Indonesia menjaga ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basariyah.

Islam Nusantara

Organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), sepakat dengan pernyataan Presiden Jokowi.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar NU Helmy Faishal Zaini mengatakan, PBNU tengah meneguhkan kembali Islam Nusantara di masyarakat Indonesia.

"Kita ingin meluruskan konteks beragama dan bernegara bahwa kita adalah orang Indonesia yang beragama Islam. Artinya orang Islam yang berbudaya nusantara. Bukan orang Islam Indonesia yang berbudaya Arab,” ujar Helmy ketika ditemui di Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar NU 2019 di Kota Banjar, Rabu.

Peneguhan Islam Nusantara yang tetap berpijak dari syariat dinilai sangat penting dikemukakan kembali di ruang publik.

Menurut PBNU, saat ini terjadi fenomena di kalangan umat Islam, yakni politisasi Islam dengan menggunakan simbol-simbol Arab.

“Kemudian itu melahirkan suatu pemikiran yang menyebabkan pertentangan antara Islam dengan budaya Indonesia sendiri. Misalnya, tradisi tahlilan dianggap bidah,” ujar Helmy.

“Nah, Islam Nusantara ini adalah mengenai bagaimana kita umat Islam meletakkan Islam dengan nasionalisme itu secara harmoni. Tidak dihadap-hadapkan atau dipertentangkan,” lanjut dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Presiden Jokowi dan Pesannya untuk Belajar dari Afghanistan..."

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved