Breaking News:

7 Fakta Kasus Hori, Pria Lumajang yang Gadaikan Istri: Kronologi Sebenarnya hingga Ancaman Hukuman

Sederetan dugaan tindakan kejahatan yang dilakukan oleh Hori di masa lalu, yakni menjual darah dagingnya sendiri hingga diduga menggadaikan istrinya.

surabaya.tribunnews.com/sri wahyunik
Kapolres Lumajang mempertemukan Hori, pelaku pembunuhan yang diduga menggadaikan istrinya dengan Lasmi dan Hartono. 

TRIBUNNEWS.COM - Entah apa yang ada dalam benak Hori (43), hingga ia tega melakukan tindakan kejahatan kemanusiaan.

Diketahui, Hori ditangkap oleh kepolisian Lumajang atas kasus pembunuhan.

Beberapa waktu lalu, Hori telah merencanakan untuk membunuh Hartono (40), yang dulu merupakan rekannya.

Namun karena kalap, Hori justru salah sasaran dan membunuh orang yang mirip dengan Hartono, yakni Muhammad Toha (34).

Dari kasus pembunuhan inilah, terungkap sederetan dugaan tindakan kejahatan yang dilakukan oleh Hori di masa lalu, yakni menjual darah dagingnya sendiri hingga diduga menggadaikan istrinya, Lasmi (35) kepada Hartono.

Berikut kami rangkum fakta-fakta mengenai kasus yang menjerat Hori.

1. Kronologi pembunuhan Toha versi Hori

Hori warga Desa Jenggrong Kecamatan Ranuyoso, Lumajang membacok Toha warga Desa Sombo Kecamatan Gucialit, Lumajang, Selasa (11/6/2019) malam.

Kejadian ini berawal saat Hori hendak meminta kembali istrinya yang digadaikan kepada Hartono warga Desa Sombo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur (Jatim) yang merupakan tetangga desanya.

Namun Hartono hanya bersedia kembalikan istri Hori jika tebusannya dibayar, yakni sebesar Rp 250 juta rupiah.

Karena hal tersebut, emosi Hori memuncak. Dia kemudian mencari Hartono dengan membawa sebilah parang.

Di tengah jalan, dia bertemu orang lain yang disangka Hartono.

Hori lalu melayangkan senjata tajamnya kepada orang tersebut. Namun Hori salah sasaran.

Orang tersebut adalah orang lain dan bukan Hartono, yakni Toha, warga Desa Sombo Kecamatan Gucialit.

Pembacokan yang berujung tewasnya seseorang itu terjadi di Jalan Dusun Argomulyo Desa Sombo Kecamatan Gucialit, Lumajang, Selasa (11/6/2019) malam.

Setelah pembacokan, pelaku kaget karena yang dibacok ternyata orang lain yang bernama Muhammad Toha.

Peristiwa itu membuat geger desa setempat hingga kemudian Hori dilaporkan dn ditagkap pihak kepolisian.

Najwa Shihab Komentari Setya Novanto Pindah Lapas: Drama Terkini Buka Kecurigaan Lain

Peringatan Haul Ke-51 Guru Tua, Dihadiri Ketua MUI, 3 Gubernur, dan Ribuan Warga

Setya Novanto Berulah, Kanwil Kemenkumham Jabar Minta Maaf

2. Terancam hukuman 20 tahun atas kasus pembunuhan

Kasat Reskrim Polres Lumajang AKP Hasran mengungkapkan, Hori akan dijerat Pasal 249 KUHP tentang pembunuhan berencana.

Ia terancam hukuman penjara selama 20 tahun.

3. Benarkah Hori menggadaikan istrinya?

Dari kasus pembunuhan ini, terkuaklah silang sengkarut permasalahan Hori, Hartono dan Lasmi, istri Hori.

Guna mencari titik terang, pihak kepolisian mempertemukan ketiganya untuk dimintai keterangan.

Dari pertemuan tersebut, Lasmi mengaku tidak pernah dijadikan jaminan utang atau digadaikan.

"Kami lakukan interogasi kepada keduanya untuk mengetahui persoalan dalam perkara tersebut," ujar Arsal.

"Kasus ini pelik. Rupanya Lasmi memilih pergi sendiri karena merasa ditelantarkan oleh Hori," imbuh Arsal.

Dia menuturkan, dirinya pergi meninggalkan Hori lantaran tidak diberikan nafkah selama hidup dengannya.

Bahkan, Lasmi kerap mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari Hori.

4. Kronologi sebenarnya

Polisi menemukan kronologi sebenarnya mengenai kasus suami yang gadaikan istri.

Saat diinterogasi polisi, Hartono mengaku Hori meminjam uang sebesar Rp 250 juta yang tidak diberikan secara langsung, melainkan secara bertahap hingga mencapai total Rp 250 juta.

Peminjaman itu untuk dalih bisnis.

Perkenalan Hori dan Hartono berawal saat keduanya sama-sama bekerja di Malaysia.

Setelah empat bulan bekerja di negeri Jiran, Hori memutuskan kembali ke Lumajang.

Namun mereka masih tetap berkomunikasi. Bahkan dalam komunikasinya itu, Hori mengajak Hartono berbisnis.

Bisnis yang ditawarkan mulai dari penanaman pohon sengon, tambak udang, sampai ayam aduan.

Saat berbisnis sengon, Hartono sudah keluar uang Rp 10 juta. Namun Hartono tidak menikmati hasil dari penjualan pohon sengon itu.

Meski telah ditipu oleh Hori, namun Hartono masih saja setuju saat diajak berbisnis lagi.

Sampai akhirnya Hori menjanjikan bisnis tambak udang kepada Hartono.

Untuk memuluskan peminjaman uang itu, Hori mengenalkan seorang perempuan kepada Hartono.

Perkenalan dilakukan melalui telepon. Perempuan itu disebutnya bernama Holifah, dan dikenalkan oleh Hori sebagai pemilik tambak udang di Banyuwangi.

Untuk memuluskan aksinya, Hori mengirimkan foto perempuan yang disebutnya bernama Holifah tersebut.

Selama dua tahun, Hartono yang masih bujang berhubungan dengan Holifah melalui telepon.

Selama itu pula, Hartono mengirimkan uang untuk bisnis udang tersebut.

Alasan yang dipakai oleh 'Holifah' antara lain untuk pakan udang dan perawatan tambak.

Sampai akhirnya terkumpul Rp 250 juta, belakangan, Hartono menyadari tidak pernah ada tambak udang tersebut.

Dia juga baru mengetahui kalau orang yang berkomunikasi dengannya ditelepon adalah Lasmi, yang tidak lain adalah istri Hori.

"Tapi dia disuruh oleh Hori," kata Hartono membela Lasmi.

Karenanya, dia merasa Lasmi tidak menipunya. Dia melihat perbuatan Lasmi karena ditekan oleh Hori.

Sekitar setahun lalu, tidak ada lagi upaya bisnis antara Hori dan Hartono.

Apalagi Lasmi memilih pergi dari Hori karena merasa ditelantarkan, juga mendapatkan tindak kekerasan dari Hori.

Hartono mau menampung Lasmi dengan alasan perempuan itu tidak memiliki keluarga di Lumajang.

Sampai akhirnya, Hartono dan Lasmi menikah secara siri pada bulan April lalu. Utang piutang antara Hori dan Hartono tidak kunjung selesai.

5. Lasmi menikah siri

Lasmi dan Hartono mengaku telah melangsungkan pernikahan sirinya pada bulan April lalu.

"Tidak ada dia (Lasmi) jadi jaminan. Tidak benar saya ngomong minta istrinya dijadikan jaminan utang," tegas Hartono.

6. Jual anak

Dari hasil interogasi kepada Lasmi, polisi menemukan fakta terbaru terkait indikasi perdagangan manusia yang dilakukan Hori.

Indikasi perdagangan orang (human trafficking) itu menimpa pada anak Hori dan Lasmi.

Lasmi menuturkan anak lelakinya dijual oleh Hori.

Anak lelakinya dijual saat berusia sepuluh bulan. Saat ini anak tersebut sudah berusia tujuh tahun.

"Katanya orang-orang dijual. Dijual seharga Rp 500 ribu. Dijual saat masih berada di Medan," kata Lasmi kepada Arsal.

7. Uang dipakai untuk berjudi

Diketahui Lasmi merupakan perempuan asal Sumatera Utara. Dia bertemu dengan Hori saat bekerja di sebuah perkebunan sawit di Sumatera Utara. Keduanya lantas menikah.

Lasmi mengaku hanya menikah secara siri dengan Hori.

Namun Hori mengaku menikahi Lasmi secara sah berdasarkan hukum negara.

Dari pernikahannya dengan Hori, Lasmi memiliki tiga orang anak.

Dua anaknya meninggal dunia, dan satu anak yang masih hidup, berjenis kelami laki-laki dijual oleh Hori seharga Rp 500 ribu.

Lasmi menuturkan, hasil penjualan itu dipakai untuk main judi dan kehidupan sehari-hari.

Anak tersebut kini bersama orang yang disebut Lasmi telah membelinya.

"Anak saya tidak mengenali saya sebagai mamanya," imbuh Lasmi.

(Tribunsolo.com/Fachri Sakti Nugroho)

Artikel ini telah tayang di Tribunsolo.com dengan judul 7 Fakta Pria di Lumajang yang Gadaikan Istrinya: Pengakuan Sang Istri hingga Jual Anak untuk Berjudi

Tags
Lumajang
Sumber: TribunSolo.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved