Palu Hari Ini
Pascabencana, Perajin Batik Bomba di Kota Palu Kekurangan Modal Usaha
Pascabencana alam gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi pada 28 September 2018 lalu, sejumlah perajin batik di Kota Palu mulai kekurangan modal usaha.
Penulis: Haqir Muhakir |
TRIBUNPALU.COM, PALU -- Pascabencana alam gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi pada 28 September 2018 lalu, sejumlah perajin batik di Kota Palu mulai kekurangan modal usaha.
Hal ini diungkapkan oleh Ahdin Dg Situa, pemilik UD Batik Bomba di Jalan Lekatu, Kelurahan Tavanjuka, Kecamatan Tatanga pada Sabtu (5/10/2019) sore.
Saat ini toko yang dikelola Ahdin itu hanya mengharapkan modal dari pesanan para pembeli.
Ahdin memanfaatkan hasil penjualan sebelumnya untuk melakukan produksi batik bomba selanjutnya.
• Gubernur Sulteng Sebut Ada Ratusan Warga Poso yang Mengungsi dari Wamena
• Peringatan HUT TNI ke-74 di Palu Berlangsung Khidmat, Ini Pesan Danrem 132/Tadulako kepada Prajurit
• Bella Saphira hingga Annisa Pohan, 5 Seleb Bersuamikan Anggota TNI, Rela Tinggalkan Dunia Artis
Akibat bencana yang terjadi pada 28 September 2018 lalu itu, mereka sempat menghentikan produksi batik selama beberapa bulan pascabencana.
"Terpaksa kami kembali lagi ke awal, kebetulan ada pelanggan di Kabupaten Sigi yang pesan, dari situ saya gunakan sebagian sebagai modal," jelas Ahdin.
Hasil produk awal pascabencana itu dihargai Rp200 ribu per lembarnya.
Hasil penjualan pascabencana pun terbilang lebih sedikit, jauh beda dengan omzet usaha sebelum bencana yang bisa mencapai Rp5 juta per bulan.
UD Batik Bomba milik Ahdin itu memproduksi batik cap dan bukan batik tenun.
Kebetulan, kata Ahdin, Dewan Kerajinan Provinsi Sulawesi Tengah membantu dengan melakukan pemesanan batik sebanyak 30 kain batik bomba.
"Dari mereka juga modal usaha saya kumpulkan," ungkapnya.
(TribunPalu.com/Muhakir Tamrin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/batik-bomba-perajin.jpg)