Nasib Santri yang Pernah 'Ramal' Prabowo Jadi Menteri: Keluar dari Pesantren karena Tak Punya Biaya

Ucapan Muhammad Askal Fikri yang menyebut Prabowo jadi menteri tiga tahun lalu kini menjadi kenyataan.

Nasib Santri yang Pernah 'Ramal' Prabowo Jadi Menteri: Keluar dari Pesantren karena Tak Punya Biaya
TribunJateng.com/Budi
Mohammad Askal Fikri, santri yang pada tahun 2016 lalu pernah mengatakan Prabowo jadi menteri saat diminta Presiden Joko Widodo untuk menyebutkan tiga nama menteri. 

TRIBUNPALU.COM - Ucapan Muhammad Askal Fikri (20) pemuda asal Kuripan Lor Gang 23, Kelurahan Kuripan Yosorejo, Kecamatan Pekalongan Selatan jadi kenyataan.

Tiga tahun silam, Fikri mendapatkan hadiah dari Presiden Jokowi setelah menyebutkan tiga nama menteri.

Namun saat itu, Fikri yang tengah menuntut ilmu di Pondok Pesantren API Tegal Rejo Malang menyebut Megawati Soekarnoputri, Ahok, dan Prabowo Subianto sebagai menteri.

Walau jawaban yang diberikan Fikri salah, Presiden Jokowi tetap memberikan hadiah sepeda.

Dua tahun berlalu, tak disangka ucapan Fikri yang spontan dikatakan itu menjadi kenyataan.

Diketahui, Prabowo Subianto sudah resmi menjadi Menteri Pertahanan sejak Rabu (23/10/2019).

Ganjar Pranowo Sebut Peluang Prabowo Jadi Calon Menteri Tidak Lepas dari Peran Seorang Santri

Sisi Lain dan Masa Lalu Sosok Edhy Prabowo, Sempat jadi Tukang Pijit Prabowo Subianto

Arief Poyuono Kekeuh Tolak Prabowo Disebut Pembantu Jokowi, Yunarto Wijaya: Saya Minta Ikhlas Saja

Fikri mengakui saat itu dirinya hanya spontan menjawab.

"Saya hanya spontan menjawab karena grogi, aslinya saya tidak tahu jabatan mereka. Karena waktu di pondok saya tidak pernah menonton televisi," ujarnya melansir dari Tribunjateng.com, Jumat (25/10/2019) siang.

Sebuah video juga memperlihatkan kala Fikri melihat dirinya sendiri tiga tahun lalu.

Ia mengaku masih malu saat mengingat momen pertemuannya dengan Presiden Jokowi.

"Malu sebenarnya, tapi saya mengambil hikmah dari pertemuan itu. Bagi saya yang terpenting berani dulu untuk maju, karena banyak santri tak berani maju saat Presiden meminta sejumlah santri untuk menjawab pertanyaan," paparnya.

Kini, Fikri tak lagi menuntut ilmu di pondok pesantren karena terkendala ekonomi keluarga.

Fikri membantu menyokong kebutuhan keluarga dengan bekerja di tempat pembuatan kain tenun.

Halaman
1234
Editor: Rizkianingtyas Tiarasari
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved