Rabu, 3 Juni 2026

Ramadan 2020

Cuaca Terasa Panas di Pertengahan Ramadan, Ini Penjelasan BMKG

BMKG memberikan penjelasan mengenai cuaca yang cukup panas jelang pertengahan bulan Ramadan 2020.

Tayang:
TribunJogja.com
Ilustrasi suhu udara panas. BMKG memberikan penjelasan mengenai cuaca yang cukup panas jelang pertengahan bulan Ramadan 2020. 

TRIBUNPALU.COM - Apakah kalian merasakan cuaca yang panas di siang hari dan suasana yang membuat gerah dan banjir keringat?

Menjelang pertengahan bulan Ramadan yang jatuh di bulan Mei 2020 kali ini, sejumlah wilayah di Indonesia memang memiliki cuaca yang cukup panas.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan mengenai hal ini.

Kasubid Peringatan Dini Cuaca BMKG, Agie Wandala Putra menyebut kondisi panas ini tidak dirasakan oleh seluruh wilayah Indonesia.

"Kalau melihat dari distribusinya sebetulnya tidak semua daerah di indonesia sedang dilanda kondisi udara yang relatif panas. Sumatera masih banyak hujan. hanya memang Jawa, Bali, Nusa Tenggara sedang dalam kondisi kering," ungkapnya kepada Tribunnews.com melalui WhatsApp, Jumat (8/5/2020).

Agie mengungkapkan suasana terik umumnya disebabkan oleh suhu udara yang tinggi dan disertai oleh kelembapan udara yang rendah.

"Terutama terjadi pada kondisi langit cerah dan kurangnya awan, sehingga pancaran sinar matahari langsung lebih banyak diteruskan ke permukaan bumi," ujarnya.

 

Ini Penjelasan MUI Soal Dukhan dan Dentuman di Pertengahan Ramadhan

Direktur Perkapalan Kemenhub Sebut Pelarungan Jenazah ABK WNI ke Laut Sudah Sesuai Prosedur

Ungkap Makna Ekspresi Ferdian Paleka Secara Psikologis, Poppy Amalya: Tertawanya Itu Sakit

Berkurangnya tutupan awan terutama di wilayah Indonesia bagian selatan pada bulan-bulan ini disebabkan wilayah ini tengah berada pada masa transisi dari musim hujan menuju musim kemarau.

"Sebagaimana diprediksikan BMKG sebelumnya, seiring dengan pergerakan semu matahari dari posisi di atas khatulistiwa menuju Belahan Bumi Utara," jelas Agie.

Transisi musim ditandai mulai berhembusnya angin timuran dari Benua Australia (monsun Australia) terutama di wilayah bagian selatan Indonesia.

Angin monsun Australia ini bersifat kering kurang membawa uap air, sehingga menghambat pertumbuhan awan.

"Kombinasi antara kurangnya tutupan awan serta suhu udara yang tinggi dan cenderung berkurang kelembapannya inilah yang menyebabkan suasana terik yang dirasakan masyarakat," jelasnya.

Agie juga memberi penjelasan, secara klimatologis bulan April hingga Juni memang tercatat sebagai bulan-bulan dimana suhu maksimum mengalami puncaknya di Jakarta, selain Oktober dan November.

"Pola tersebut mirip dengan pola suhu maksimum di Surabaya, sementara di Semarang dan Jogjakarta, pola suhu maksimum akan terus naik secara gradual pada bulan April dan mencapai puncaknya pada bulan September-Oktober," ungkapnya.

BMKG memberi catatan meskipun tingginya suhu maksimum hari-hari ini tidak dapat dikatakan dipicu secara langsung oleh perubahan iklim.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved