Kabar Internasional

Langkah Antisipasi Pandemi, Wuhan Resmi Keluarkan Aturan Larangan Konsumsi dan Peternakan Hewan Liar

Pemerintah Wuhan, China mengumumkan aturan larangan untuk mengonsumsi dan berternak hewan liar pada Rabu (20/5/2020). Bagaimana cara penerapannya?

Yuri Tutov/AFP via Getty Images
Hewan penghasil bulu yang diternakan - Pemerintah Wuhan, China mengumumkan aturan larangan untuk mengonsumsi dan berternak hewan liar pada Rabu (20/5/2020). Bagaimana cara penerapannya? 

Anggota Koferensi Konsultatid Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC) telah menyerukan larangan konsumsi dan perburuan hewan liar serta menjadikannya bagian dari hukum pidana.

Wakil Ketua All China Lawyers Association, Lv Hongbing menyatakan, sedang mencari syarat konkret untuk ketentuan hukum bagi mereka yang mengonsumsi hewan liar.

Sementara Wakil Presiden Universitas Pertanian Jiangxi di China bagian timur, Liu Muhua mengakui, orang yang biasanya memelihara hewan liar di peternakan sangat terpukul dengan larangan tersebut lantaran mereka tidak lagi diizinkan untuk menjual hewan ternak mereka.

Dia mencatat bahwa daftar yang jelas tentang klasifikasi hewan apa yang bisa mereka ternak mulai sekarang ini akan sangat penting dibuat.

Hal tersebut akan memberikan penjelasan yang detail bagi masyarakat yang masih bingung dengan perubahan kebijakan ini.

Pedagang membakar paniki (kalong) yang didapat dari pengepul sebelum dijual di Pasar Tomohon, Sulawesi Utara. Di pasar ini dijual sejumlah daging satwa liar yang merupakan hasil perburuan.
Pedagang membakar paniki (kalong) yang didapat dari pengepul sebelum dijual di Pasar Tomohon, Sulawesi Utara. Di pasar ini dijual sejumlah daging satwa liar yang merupakan hasil perburuan. (KOMPAS/IWAN SETIYAWAN)

Ditemukan Klaster Baru Virus Corona, 11 Juta Penduduk Wuhan Kembali Jalani Tes Covid-19

Upaya mengubah status hewan penghasil bulu dari 'satwa liar' menjadi 'hewan ternak'

Diwartakan Fox News pada Kamis (21/5/2020), Pemerintah Wuhan juga melakukan pembatasan peternakan hewan liar dengan aturan biaya tertentu.

Namun terdapat pengecualian untuk tujuan-tujuan tertentu dan disetujui oleh pemerintah.

Misalnya, penelitian ilmiah, peraturan kependudukan, pemantauan penyakit epidemi, dan keadaan tertentu lainnya.

Dua provinsi dilaporkan telah menyetujui rencana tersebut hanya satu bulan setelah China juga mereklasifikasi anjing dari "ternak" menjadi "hewan peliharaan".

Provinsi Hunan mengumumkan rencananya untuk membangun skema kompensasi untuk mendorong para peternak untuk beternak hewan lainnya.

Pihak berwenang setempat akan mengevaluasi setiap peternakan untuk mendapatkan kompensasi berdasarkan hewan eksotis yang mereka pelihara.

Hewan penghasil bulu yang diternakan
Hewan penghasil bulu yang diternakan (Yuri Tutov/AFP via Getty Images)

Satwa Endemik Macaca Tonkeana Berkeliaran di Jalur Kebun Kopi Sulteng

Provinsi tetangga, Jiangxi, telah menyusun rencana serupa, tetapi para pejabat memperkirakan bahwa ada lebih dari 2.300 peternak berlisensi dan stok mereka bisa bernilai hingga 1,6 miliar yuan, atau $ 225 juta, kata sumber-sumber kepada The Week .

Menurut Human Society International (HSI), perdagangan konsumsi satwa liar di Tiongkok "bernilai 125 miliar yuan, sekitar $ 18 miliar."

Tetapi, konsumsi satwa liar bukanlah industri terbesar di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Halaman
123
Sumber: Tribun Palu
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved