Kabar Internasional
Langkah Antisipasi Pandemi, Wuhan Resmi Keluarkan Aturan Larangan Konsumsi dan Peternakan Hewan Liar
Pemerintah Wuhan, China mengumumkan aturan larangan untuk mengonsumsi dan berternak hewan liar pada Rabu (20/5/2020). Bagaimana cara penerapannya?
TRIBUNPALU.COM - Dugaan merebaknya virus corona akibat zoonosis di pasar basah Wuhan masih belum mendapatkan titik terang.
Meskipun belum ada bukti kuat, tetapi para ahli menduga keterlibatan hewan liar sangat berpengaruh dalam penyebaran Covid-19 yang telah mengancam manusia di seluruh dunia.
Oleh karena itu, atas dasar keprihatinan para ahli konservatif akan perburuan hewan liar sebagai daging konsumsi membuat mereka bergerak untuk mendesak World Health Organization (WHO) untuk menutup pasar hewan liar di seluruh dunia.
Hal tersebut tak lepas dari kekhawatiran mereka soal masa depan akan adanya pandemi baru yang bisa saja terjadi akibat penularan dari satwa liar.
• Ratusan Ahli Desak WHO Tutup Pasar Satwa Liar: tak Lagi Murah, Hewan Liar malah Jadi Kuliner Mewah
Dikutip dari The Independent yang tayang Rabu (8/4/2020), lebih dari 200 ahli terlibat dalam aksi ini.
Para ahli tersebut tergabung dalam sebuah gerakan dan telah menandatangani surat terbuka.
Mereka tak hanya menginginkan pasar hewan liar ditutup, tetapi juga mendesak adanya peraturan yang melarang pemanfaatan satwa liar sebagai obat tradisional.
Menanggapi desakan itu, WHO kemudian mengambil langkah-langkah preventif demi mencegah pandemi berikutnya serta memberikan perlindungan terhadap kesehatan masyarakat.
Dikutip dari BBC, satu di antara langkah yang diambil adalah pemberlakuan standar keselamatan dan kebersihan yang lebih ketat di pasar basah atau pasar hewan liar.
Tak hanya itu, WHO meminta pemerintah tiap negara untuk lebih ketat melakukan larangan penjualan dan perdagangan satwa liar.
WHO bekerja sama dengan badan PBB lainnya tengah menyiapkan panduan operasional pasar hewan liar ini.

• Tanggapi Desakan Ahli terkait Corona, WHO Siapkan Panduan Operasional & Perketat Izin Pasar Basah
Resmi melarang konsumsi dan peternakan hewan liar
Pemerintah Wuhan, China mengumumkan aturan larangan untuk mengonsumsi dan berternak hewan liar pada Rabu (20/5/2020).
Namun, yang menjadi pertanyaan tentang bagaimana larangan itu bisa diterapkan secara efektif?
Dikutip dari CGTN, para penasihat politik di China tengah berkumpul di Beijing untuk membuat langkah hukum dan menciptakan kebijakan.
Anggota Koferensi Konsultatid Politik Rakyat Tiongkok (CPPCC) telah menyerukan larangan konsumsi dan perburuan hewan liar serta menjadikannya bagian dari hukum pidana.
Wakil Ketua All China Lawyers Association, Lv Hongbing menyatakan, sedang mencari syarat konkret untuk ketentuan hukum bagi mereka yang mengonsumsi hewan liar.
Sementara Wakil Presiden Universitas Pertanian Jiangxi di China bagian timur, Liu Muhua mengakui, orang yang biasanya memelihara hewan liar di peternakan sangat terpukul dengan larangan tersebut lantaran mereka tidak lagi diizinkan untuk menjual hewan ternak mereka.
Dia mencatat bahwa daftar yang jelas tentang klasifikasi hewan apa yang bisa mereka ternak mulai sekarang ini akan sangat penting dibuat.
Hal tersebut akan memberikan penjelasan yang detail bagi masyarakat yang masih bingung dengan perubahan kebijakan ini.

• Ditemukan Klaster Baru Virus Corona, 11 Juta Penduduk Wuhan Kembali Jalani Tes Covid-19
Upaya mengubah status hewan penghasil bulu dari 'satwa liar' menjadi 'hewan ternak'
Diwartakan Fox News pada Kamis (21/5/2020), Pemerintah Wuhan juga melakukan pembatasan peternakan hewan liar dengan aturan biaya tertentu.
Namun terdapat pengecualian untuk tujuan-tujuan tertentu dan disetujui oleh pemerintah.
Misalnya, penelitian ilmiah, peraturan kependudukan, pemantauan penyakit epidemi, dan keadaan tertentu lainnya.
Dua provinsi dilaporkan telah menyetujui rencana tersebut hanya satu bulan setelah China juga mereklasifikasi anjing dari "ternak" menjadi "hewan peliharaan".
Provinsi Hunan mengumumkan rencananya untuk membangun skema kompensasi untuk mendorong para peternak untuk beternak hewan lainnya.
Pihak berwenang setempat akan mengevaluasi setiap peternakan untuk mendapatkan kompensasi berdasarkan hewan eksotis yang mereka pelihara.

• Satwa Endemik Macaca Tonkeana Berkeliaran di Jalur Kebun Kopi Sulteng
Provinsi tetangga, Jiangxi, telah menyusun rencana serupa, tetapi para pejabat memperkirakan bahwa ada lebih dari 2.300 peternak berlisensi dan stok mereka bisa bernilai hingga 1,6 miliar yuan, atau $ 225 juta, kata sumber-sumber kepada The Week .
Menurut Human Society International (HSI), perdagangan konsumsi satwa liar di Tiongkok "bernilai 125 miliar yuan, sekitar $ 18 miliar."
Tetapi, konsumsi satwa liar bukanlah industri terbesar di Negeri Tirai Bambu tersebut.
"Proporsi terbesar dari peternakan satwa liar Tiongkok [adalah] industri bulu, bernilai 389 miliar yuan ($ 55 miliar) per tahun," kata masyarakat itu.
HSI yakin sudah ada rencana yang dibuat untuk memiliki "jutaan anjing rakun, rubah dan mink fur yang diternakkan untuk menghasilkan bulu" yang dinamai dari "satwa liar" menjadi "ternak" sebagai cara untuk terus memelihara hewan-hewan ini.
(TribunPalu.com/Isti Prasetya)