Jumat, 17 April 2026

Pakar Epidemiologi Jelaskan soal New Normal, Siapkah Indonesia Hadapi Tatanan Kehidupan Baru Ini?

Menurut Ahli Epidemiologi Universitas Indonesia, Pandu Riono 'new normal' diperlukan karena pandemi virus corona Covid-19 tidak akan selesai.

YouTube KOMPASTV
Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono 

Pandu Riono mengambil contoh masih banyak pasar yang belum dikondisikan untuk 'new normal'.

Bahkan pasar-pasar ini masih terlihat padat dan ramai kerumunan sehingga masyarakat tidak menyadari bahwa hal itu berisiko terinfeksi Covid-19.

Menurutnya pemerintah dan masyarakat perlu bersinergi untuk menyiapkan tatanan hidup baru.

"Bukan hanya masyarakat saja, kita lihat peran pemerintah pun masih lemah dalam menyiapkan tatanan kehidupan baru nanti," tambahnya.

"Ini yang jangan menyalahkan masyarakat saja," ungkap Pandu.

Suasana antrean penumpang di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten, Kamis 14 Mei 2020.
Suasana antrean penumpang di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten, Kamis 14 Mei 2020. (ist)

Zaskia Mecca Ceritakan Kejadian Horor yang Dialami Putri Pertamanya saat Tempati Rumah di Jogja

Menteri BUMN Erick Thoir Wajibkan Sejumlah BUMN Berikan Proyek di Bawah Rp 14 Miliar ke UMKM

Najwa Shihab Gemas Lihat Sosok Mbah Minto, Ucup Klaten Justru Beri Gombalan: Gak Capek Cantik Terus?

Menurutnya pandemi virus corona Covid-19 ini masih lama, sehingga mungkin dalam dua atau tiga tahun 'new normal' harus terus dilakukan.

Sayangnya pemerintah masih lemah dalam mengatur kebiasaan baru ini.

"Kelemahannya adalah pemerintah belum punya rencana jangka panjang bagaimana memasuki tatanan baru ini," kata Pandu.

"Jangan lagi punya kebijakan-kebijakan yang saling bertentangan sehingga masyarakat bingung, pemerintah daerah juga bingung," lanjutnya.

Selain itu, tokoh masyarakat dan sosial media perlu dimaksimalkan dalam mendidik masyarakat perihal ini.

Sehingga nantinya orang-orang merasa sukarela dengan aturan kehidupan yang baru sebagai upaya menghindari infeksi.

Pedagang yang memiliki toko di luar gedung Pasar Jatinegara Jakarta masih tetap berjualan dan ramai pembeli menjelang lebaran, Rabu (20/5/2020). Gedung Pasar Jatinegara sendiri sudah ditutup untuk mencegah penyebaran Covid-19 dan pedagang yang memiliki toko di dalam gedung pasar mensiasati dengan berjualan secara online. TRIBUNNEWS/HERUDIN
Pedagang yang memiliki toko di luar gedung Pasar Jatinegara Jakarta masih tetap berjualan dan ramai pembeli menjelang lebaran, Rabu (20/5/2020). Gedung Pasar Jatinegara sendiri sudah ditutup untuk mencegah penyebaran Covid-19 dan pedagang yang memiliki toko di dalam gedung pasar mensiasati dengan berjualan secara online. TRIBUNNEWS/HERUDIN (TRIBUNNEWS/HERUDIN)

"Tidak bisa hanya mengimbau, petunjuknya harus jelas, operasionalnya harus jelas, program-programnya harus terukur dan bisa dievaluasi," jelas Pandu.

Dia menyoroti pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang menurutnya selama ini belum terukur dan dievaluasi dengan baik.

Sehingga tingkat keefektivitasan dan dampaknya tidak diketahui secara pasti.

"Menurut saya pemerintah juga harus berubah, kalau tidak berubah kita seperti menghadapi negara yang masih tidak jelas tujuannya dan mau kemana kita akan mengadapi semua ini," kata ahli epidemiologi ini.

(Tribunnews/Ika Nur Cahyani)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Siapkah Indonesia dengan New Normal? Ahli Epidemiologi Jelaskan Tatanan Baru Kehidupan Ini

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved