Soroti Kerusuhan di Amerika, SBY Singgung Julukan Negara Super Power: Apakah Masih Seperti Itu?

Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyoroti kerusuhan yang terjadi di Amerika Serikat.

Penulis: Lita Andari Susanti | Editor: Bobby Wiratama
KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELI
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). 

TRIBUNPALU.COM - Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyoroti kerusuhan yang terjadi di Amerika Serikat.

Seperti diketahui di Amerika Serikat terjadi kerusuhan yang begitu mencekam akibat tewasnya pria kulit hitam, Geroge Floyd.

Lewat sebuah artikel yang dibagikan di akun Facebook pribadinya, SBY menuliskan tanggapannya tentang kerusuhan di AS tersebut.

Dalam artikel tersebut SBY menyinggung banyak hal, mulai dari julukan negara super power, ekonomi Amerika, Donald Trump hingga kondisi Amerika pasca kerusuhan.

Ternyata Ini Makna dari Kode ACAB dan 1312 yang Sering Terlihat di Foto Aksi Demo Kasus George Floyd

Demo Kematian George Floyd di Luar Gedung Putih Semakin Mencekam, Trump Diungsikan ke Bunker

Berikut postingan lengkap SBY di akun Facebooknya:

"AMERIKA, ARE YOU OK?

Ada kobaran api di Amerika. Ada kerusuhan dan penjarahan di banyak kota. Suasananya seperti “perang”. Puluhan ribu tentara yang ada di wilayah (national guard) sudah dikerahkan dan diterjunkan. Ribuan pengunjuk rasa dan perusuh ditahan. Banyak pula kota yang memberlakukan jam malam.

Dunia tercengang.

Apa yang sesungguhnya terjadi? Mengapa Amerika jadi begitu? Inilah pertanyaan yang muncul di banyak negara.

Ternyata masyarakat internasional bukan hanya tercengang. Muncul pula protes-protes yang menunjukkan solidaritasnya dengan komunitas kulit hitam Amerika itu. Kita saksikan, paling tidak terjadi di 14 kota besar di dunia ~ London, Paris, Berlin, Copenhagen, Milan, Dublin, Krakow, Perth, Sydney, Auckland, Christchurch, Vancouver, Toronto, dan Rio de Janeiro.

Saya tidak ikut-ikutan tercengang. Cuma merenung. Dan mau bertanya sedikit “Are you OK, Amerika”? Yang bertanya begini mungkin banyak. Di seluruh dunia. Bukan hanya saya.

Saya tidak termasuk orang yang anti Amerika. Atau anti Barat.

Dalam pengabdian panjang saya sebagai prajurit TNI (sekitar 30 tahun), empat kali saya mengemban tugas pendidikan dan pelatihan di Amerika Serikat. Ketika menjadi menteri dan Presiden, saya juga sering melakukan kunjungan ke negara Paman Sam itu. Termasuk membangun kemitraan strategis (Strategic Partnership) di antara ke dua negara, Indonesia - Amerika Serikat. Hubungan dan kerjasama yang saling menguntungkan dan saling hormat menghormati dulu terus kita jalin, baik pada masa pemerintahan Presiden Bush maupun Presiden Obama.

Satu catatan, ketika hubungan Indonesia - Amerika terus berkembang dengan baik, kita juga menjalin hubungan (termasuk kemitraan strategis) dengan negara lain. Negara-negara itu sebagian adalah “rival” Amerika. Menurut saya, sesuai amanah para pendiri republik, “politik bebas aktif” harus tetap menjadi haluan kita. Di era saya dulu, saya tambahkan lagi dengan “all direction foreign policy”. Artinya, menjalin hubungan baik ke segala penjuru dunia, apapun ideologi dan sistem politik yang dianut negara-negara itu. Syaratnya, mereka menghormati kedaulatan kita dan memiliki “common interests” dengan Indonesia.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Palu
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved