Minggu, 10 Mei 2026

Mengenal Happy Hypoxia pada Pasien Covid-19, Dokter: Gagal Nafas, tapi Terlihat Baik-baik Saja

"Pasien tampak tidak sesak atau hanya sedikit sesak dan masih dapat melakukan aktivitas, berbicara, seolah sedang tidak mengalami hypoxia."

Tayang:
KOMPAS.COM/FADLAN MUKHTAR ZAIN
Simulasi penanganan pasien terinfeksi virus corona Covid-19 di RSUD Margono Soekarjo Purwokerto, Jawa Tengah, Senin (3/2/2020). 

Pasien tersebut seolah-olah dapat menoleransi kondisi dalam tubuhnya sehingga tidak menunjukkan gejala penurunan saturasi sejak awal.

Hingga nantinya kondisinya makin memburuk.

Saat saturasi oksigennya sudah anjlok, baru pasien menunjukkan kondisi berat dan perburukan sehingga harus segera diberikan alat bantu napas.

"Kondisi itulah yang disebut dengan happy hypoxemia syndrome. Kepustakaan ada yang menyebutkan nama lain yaitu silent hypoxia syndrome, pasien seolah-olah baik-baik saja padahal sedang dalam kondisi hypoxia," katanya.

Gejala sesak napas, kata dia, baru mulai tampak setelah terjadi konsolidasi berat pada jaringan paru.

"Kalau dilihat dari patogenesis-nya, dyspnea atau gejala sesak napas baru mulai tampak setelah jaringan paru mulai mengalami penurunan dan bahkan sudah terjadi konsolidasi berat, jadi jika gambaran parunya rusak berat maka gejala sesaknya baru muncul," katanya.

Dia mengatakan RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo makin intensif mengamati adanya kondisi pasien yang tampak baik padahal saturasinya sudah sangat menurun itu pada Juli 2020.

Hadi Pranoto Dua Kali Gagal Diperiksa dengan Alasan Sakit, Polisi Sebut Sempat Tolak Rapid Test

Marc Marques Masih Cedera, Manajer Repsol Honda Tak Yakin Bisa Rebut Juara MotoGP 2020

Kawah Oro-oro Kesongo di Blora Meletus 3 Kali dalam Sehari, 18 Kerbau Tenggelam, 4 Warga Keracunan

Cara Cek Kadar Gula Darah: Tes A1C Tahunan Bisa Dilalui bila Anda Tidak Miliki Diabetes

"Pada bulan Juli 2020 kami mulai mengalami peningkatan kasus rujukan dengan pneumonia sedang sampai berat, pada saat itu juga ada pasien yang saat tiba di rumah sakit kelihatannya tidak terlalu sesak tapi tidak lama kemudian makin memberat dan memerlukan ventilator. Setelah dilakukan analisis gas darah arteri ternyata pasien sedang mengalami hypoxia," katanya.

Berbekal pengalaman demi pengalaman itu, dia dan tim makin mengintensifkan pengecekan saturasi oksigen pada pasien secara berkala untuk mengantisipasi kondisi pasien yang memburuk tiba-tiba.

"Meskipun pasien tidak mengalami gejala hypoxia namun pengecekan saturasi oksigen pasien Covid-19 kami lakukan tiap sebentar-sebentar dan secara terus menerus," katanya.

Jika pengecekan tersebut menunjukkan pasien sedang mengalami hypoxia, maka pihaknya akan bertindak berdasarkan hasil analisis gas darah arteri pasien.

"Dari hasil analisis gas darah arteri dapat terlihat apakah pasien tersebut masih dapat dikoreksi dengan pemberian terapi oksigen dengan masker oksigen, atau memang sudah perlu ventilator, ada hitungannya. Di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo sendiri tidak perlu menunggu lama karena ada alatnya jadi segera dipasang jika memang perlu ventilator," katanya.

Kendati demikian, kata dia, pihaknya akan tetap mempertimbangkan terlebih dahulu.

Apabila memang masih memungkinkan dibantu dengan masker oksigen maka pasien akan dipasang masker oksigen saja.

Dia lantas menambahkan, pasien Covid-19 di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo yang mengalami happy hypoxia sebagian besar bisa ditangani dengan baik, tapi ada juga yang meninggal dunia.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved