Minggu, 10 Mei 2026

BMKG Sebut Bulan September akan Jadi Puncak Musim Kemarau

Memasuki bulan September BMKG memaparkan bahwa suhu cuaca yang cukup panas masih akan terjadi di Indonesia.

Tayang:
pixabay.com
Ilustrasi tanah kekeringan akibat musim kemarau. 

"Sebenernya perlu diketahui pada periode Juli-Agustus-September rata-rata suhu di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara justru merupakan periode suhu rendah dibanding bulan-bulan lainnya," ujar Adi.

Sebab, hal ini berkaitan dengan posisi gerak semu matahari yang sedang berada di belahan Bumi Utara sejak Juni, serta pada periode Juni-Juli-Agustus yang dipengaruhi juga oleh instrusi udara dingin dari Benua Australia.

Saat itu, Benua Australia sedang mengalami musim dingin.

"Sehingga, pada periode tersebut masyarakat di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara merasakan hawa atau suhu udara lebih dingin dari biasanya," lanjut dia.

Penyebab suatu wilayah mengalami cuaca ekstrem

Sementara itu, Kepala Sub Bidang Peringatan Dini Cuaca BMKG, Agie Wandala mengatakan ada sejumlah penyebab suatu wilayah mengalami cuaca panas yang ekstrem.

Berikut rinciannya:

  1. Penyinaran matahari merupakan faktor utama dari suhu yang memanas. Posisi matahari yang saat ini berada di khatulistiwa menjadikan wilayah Indoensia memiliki suhu yang panas.
  2. Tidak adanya tutupan awan yang menyebabkan sinar matahari dapat langsung ke Bumi.
  3. Kadar uap air di udara. Relatif humidity (kelembapan udara) yang kering menyebabkan suhu lebih panas.
  4. Faktor topografi wilayah juga berpengaruh, ditambah jika wilayah urban yang lebih cepat dampaknya untuk suhu panas.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Analisis BMKG soal Puncak Kemarau di Bulan September...", 
Penulis : Retia Kartika Dewi
Editor : Sari Hardiyanto

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved