Sabtu, 11 April 2026

Resesi Ekonomi Indonesia Akibat Pandemi Covid-19 Mengingatkan Krisis Moneter 1998

Menurut dia, masuknya Indonesia dalam jurang resesi pada 2020 mengingatkan kembali peristiwa 1998. Krisis ekonomi pada saat itu diawali dengan resesi.

filmdaily.co
ILUSTRASI resesi ekonomi. 

TRIBUNPALU.COM - Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Gerindra Heri Gunawan menilai, perekonomian Indonesia saat ini mengalami dua pukulan telak.

Yaitu, resesi dan pertumbuhan ekonomi secara kumulatif yang masih negatif selama 2020. 

Indonesia masuk fase resesi karena dua kuartal berturut-turut pertumbuhan ekonomi mengalami minus.

Pada kuartal II pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,32 persen, sementara pada kuartal III pertumbuhan ekonomi minus 3,49 persen.

"Sementara secara kumulatif pun selama 2020 dari kuartal I, kuartal II, dan kuartal III, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar minus 2,03 persen," kata Heri dalam keterangan tertulis yang diterima Tribun, Kamis, (12/11/2020).

Menurut dia, masuknya Indonesia dalam jurang resesi pada 2020 mengingatkan kembali peristiwa 1998.

Krisis ekonomi pada saat itu diawali dengan resesi.

Terjadinya krisis ekonomi 1998 saat itu tidak bisa dilepaskan dari sikap pemerintah yang terlalu percaya diri atas fundamental ekonomi.

Ia mengatakan sikap terlalu percaya diri tersebut mirip yang terjadi sekarang ini.

"Kritik akan terjadinya kemunduran ekonomi tidak diindahkan. Pemerintah terus memproduksi alibi bahwa perekonomian Indonesia masih lebih baik dari negara lain. Faktor eksternal selalu dijadikan tameng menutupi kelemahan fundamental ekonomi domestik," katanya.

Baca juga: Kata IDI Soal Vaksin Covid-19 yang Diujikan kepada 1.000-2.000 Relawan: Belum Bisa Dipastikan Aman

Baca juga: Bereaksi Soal Pernyataan Megawati Sebut Jakarta Amburadul, Gerindra Pamerkan Prestasi Anies Baswedan

Baca juga: Ungkap Kemiripan Kamar Gisel & Cewek di Video Syur, Pakar: Janggal Orang Masang TV di Dekat Jendela

Kepercayaan diri tersebut terlihat dari, sikap pemerintah yang mematok pertumbuhan ekonomi di kuartal tiga kemarin di angka 0 hingga minus 2,1 persen.

Nyatanya kontraksi terjadi lebih tinggi yakni 3,49 persen.

Padahal, menurut Heri, sumber daya yang dikeluarkan pemerintah untuk menghadang terjadinya resesi cukup besar.

Awalnya pemerintah terkesan lambat merespon dampak Covid19.

Pada kuartal II-2020 realisasi anggaran Covid19 sangat sedikit sekali.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved