100 Juta Warga Amerika Serikat Diperkirakan akan Divaksin Covid-19 pada Akhir Februari 2021

Amerika Serikat diperkirakan akan memberikan vaksin Covid-19 kepada 100 juta orang penduduknya pada akhir Februari 2021.

europeanpharmaceuticalreview.com
ILUSTRASI vaksin Covid-19. 

Sementara, untuk dosis kedua vaksin Moderna-NIH diberikan setelah empat minggu.

Namun, pemberian vaksin Covid-19 kepada 100 juta warga Amerika Serikat ini akan dilakukan secara bertahap.

"Antara pertengahan Desember dan akhir Februari, kemungkinan besar kami akan mengimunisasi 100 juta orang," kata penasihat ilmiah program pemerintah AS Operation Warp Speed (OWS), Moncef Slaoui.

Prediksi ini, lanjutnya, akan meng-cover populasi yang 'berisiko tinggi.'

Yakni, populasi yang terdiri atas orang lanjut usia (lansia), tenaga kesehatan, dan responden pertama.

Jumlah vaksin untuk mengimunisasi tiga juta penduduk di fasilitas perawatan jangka panjang pada Desember 2020 juga terbilang lebih dari cukup, lanjut Moncef.

Sisa tahap pertama akan cukup untuk menjangkau sebagian besar petugas kesehatan.

Namun, itu masih dengan syarat negara-negara bagian dan teritori lain setuju dengan rekomendasi federal untuk memprioritaskan kalangan ini.

Baca juga: Minta Pemerintah Berani Tunda Pilkada 2020, Ketua Satgas Covid-19 IDI: Itu Nyawa Rakyat, Lho!

Baca juga: Dicecar Najwa Soal Alasan Habib Rizieq Tak Buka Hasil Swab Test, Haikal Hassan: Kita ke Depan Saja

Baca juga: Diminta Evaluasi Sembilan Bulan Pandemi Covid-19, Fadli Zon: Dari Awal Edukasi Sudah Kacau

Saat produksi kedua vaksin Covid-19 itu meningkat, akan ada 20 juta penduduk yang diberi vaksin pada Desember 2020, lalu 30 juta pada Januari 2021 dan 50 juta pada Februari 2021, sehingga total 100 juta.

Namun, angka ini masih belum mencakup vaksin lain yang dikembangkan oleh Johnson & Johnson dan AstraZeneca-Oxford yang tengah berada dalam tahap akhir pengembangan.

Moncef Slaoui mengatakan kedua vaksin itu dapat memberikan hasilnya antara akhir Desember dan pertengahan Januari.

Hal tersebut tentu akan membuka jalan untuk persetujuan darurat (emergency approval) pada Februari 2021 jika Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) juga memberi lampu hijau.

Moncef Slaoui menambahkan, vaksin AstraZeneca-Oxford mungkin dievaluasi hanya berdasarkan uji klinis besar di AS yang melibatkan 15.000 orang, dan bukan uji klinis dari Inggris dan Brazil yang datanya telah dirusak oleh masalah dosis.

Sementara vaksin Pfizer-BioNTech telah disetujui oleh Inggris pada hari Rabu, prosesnya akan berjalan lebih lambat dan lebih umum di Amerika Serikat.

Halaman
123
Sumber: Tribun Palu
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved