Fadli Zon Tantang Menag Debat Terbuka, Zuhairi Misrawi Pasang Badan untuk Gus Yaqut

Zuhairi Misrawi mengaku siap untuk melayani debat terbuka dengan Fadli Zon. 

KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO
Zuhairi Misrawi. (KOMPAS.com/KRISTIAN ERDIANTO) 

TRIBUNPALU.COM - Tokoh Nahdlatul Ulama Zuhairi Misrawi menanggapai tantangan debat terbuka yang dilayangkan Fadli Zon kepada Menteri Agama  Yaqut Cholil Qoumas.

Tantangan itu dilontarkan Fadli Zon terkait pernyataan Gus Yaqut mengenai populisme Islam.

"Ayo kita berdebat di ruang publik apa itu “populisme”, “populisme Islam"," tulis Fadli Zon.

"Dan apa urusannya Menag ngurusi ini. Apa tupoksinya?" tambahnya.

Dalam cuitannya tersebut, Fadli Zon juga menautkan sebuah berita mengenai pernyataan Gus Yaqut terkait populisme Islam.

Secara tegas Zuhairi Misrawi mengaku siap untuk melayani debat terbuka dengan Fadli Zon. 

Gus Mis, sapaan Zuhairi, mengaku bersedia menggantikan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang sebelumnya ditantang oleh Fadli Zon untuk debat terkait Populisme Islam.

Baca juga: Soroti Pernyataan Menag Gus Yaqut Terkait Populisme Islam, Fadli Zon: Apa Urusannya Ngurusi Ini?

Baca juga: Rangkul Semua Agama, Menag Yaqut Cholil Siap Fasilitasi Bila Ada Perselisihan Antar Umat

Fadli Zon dalam workshop bertajuk 'The Role of Parliamentarians in Addressing the Challenges of COVID-19 through Implementation of Existing International Biosecurity and Biosafety Frameworks'  (Peran Parlemen Dalam Menjawab Tantangan Global COVID-19 Melalui Kerangka Biosecurity dan Biosafety Internasional) yang diadakan oleh Parliamentarians for Global Action dan diikuti oleh sejumlah anggota parlemen dari Indonesia dan Malaysia pada Selasa (22/09/2020).
Fadli Zon dalam workshop bertajuk 'The Role of Parliamentarians in Addressing the Challenges of COVID-19 through Implementation of Existing International Biosecurity and Biosafety Frameworks' (Peran Parlemen Dalam Menjawab Tantangan Global COVID-19 Melalui Kerangka Biosecurity dan Biosafety Internasional) yang diadakan oleh Parliamentarians for Global Action dan diikuti oleh sejumlah anggota parlemen dari Indonesia dan Malaysia pada Selasa (22/09/2020). (istimewa)

Diberitakan sebelumnya, dikutip dari KompasTv, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan bahwa Indonesia berdiri karena ada berbagai agama yang ada di Indonesia.

"Saya sampaikan berkali-kali di banyak kesempatan dan saya kira ini masih sangat kontekstual meskipun posisi berbeda, dulu ketika masih aktif di Gerakan Pemuda Ansor dan Banser," kata Yaqut dalam Silaturahmi Nasional Lintas Agama di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Minggu (27/12/2020).

"Saya selalu katakan tidak ada Indonesia jika tidak ada Islam, tidak ada Kristen, tidak ada Katolik, tidak ada Hindu, tidak ada Buddha, tidak ada Konghucu, dan tidak ada agama-agama lokal yang lain," tambahnya.

Karena itu, Indonesia berdiri karena kesepakatan antarkultur dan agama.

"Indonesia itu berdiri sebagai kesepakatan antarkultur, antarbudaya, dan agama yang ada di Indonesia, jadi barang siapa ingin menghilangkan satu sama lain atas dasar agama maka artinya mereka tidak mengakui Indonesia, mereka tidak memiliki rasa keindonesiaan," katanya.

Namun, akhir-akhir ini, kesepakatan itu tampak mulai goyah.

Salah satunya karena ada pihak-pihak yang menjadikan agama sebagai norma konflik.

Baca juga: Menag Yaqut: Selamat Natal, Marilah Kita Rayakan dengan Penuh Kesederhanaan

Baca juga: Tak Ditunjuk Jadi Menteri Jokowi, Fadli Zon: Sejak Awal Saya Tak Berencana Apalagi Berharap

Halaman
123
Sumber: Warta Kota
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved