OPINI
Palu Harus Belajar Program Responsif Gender dan Inklusi di Yogyakarta
Penguatan ekonominya tumbuh bersama dengan melibatkan multipihak pemerintah dan pihak swasta.
Penulis: Mutmainah Korona
Komisi A DPRD Kota Palu
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selalu saja menghadirkan banyak hal yang menarik.
Ada banyak wejangan kuliner enak dan terjangkau harganya, belum lagi keramahan masyarakatnya, membuat wisatawan kangen untuk kembali lagi ke Kota Gudeg.
Namun, tentunya hal ini tidak hadir begitu saja tanpa intervensi kebijakan pemerintah daerah.
Seperti contoh stimulasi harga produk batik dan makanan hampir sama, sehingga tak ada dominasi pasar.
Penguatan ekonominya tumbuh bersama dengan melibatkan multipihak pemerintah dan pihak swasta.
Hal ini juga, dikoneksi dengan kebijakan dan program lainnya yang sangat berkontribusi kepada peningkatan kualitas layanan untuk menunjang peningkatan kepariwisataan dan pendidikan.
Apalagi secara kearifan lokal “local wisdom”, Kota Yogyakarta dikenal sebagai kota tua yang memiliki sejarah kerajaan, dalam kepemimpinan seorang Sri Sultan Hamingkubono.
Daerah ini terus menjadi kota yang ramah bagi siapapun tidak lepas dari cara pandang, pengetahuan dan kapasitas kepemimpinan pemerintah daerah di dalamnya.
Termasuk, bagaimana isu kesetaraan dan keadilan gender serta inklusi harus menjadi kewajiban.
Dan ini telah dipraktekan beberapa daerah di propinsi DIY, di antaranya praktek cerdas Pemerintah Kota Yogyakarta melalui program “Gandeng Gendong” dan Inklusif, dan Kabupaten Sleman yang berhasil merealisasikan Pengarusutamaan Gender dalam Perencanaan dan Penganggaran.
Dalam study komparasi 2 daerah yang dilaksanakan Komisi A DPRD Kota Palu, menemukan 3 inovasi menarik yang menjadi pembelajaran atau “lesson learned” agar bisa di replikasi di Kota Palu.
Pertama, Inovasi “Gandeng Gendong”, strategi pengentasan kemiskinan melalui gerakan pemberdayaan di Kota Yogyakarta.
Kata “Gandeng Gendong” menjadi jargon khas Pemerintah Kota Yogyakarta yang memiliki arti kuat merangkul yang lemah, yang terpinggirkan kita tarik ke tengah agar bisa berjalan bersama, atau dengan sebutan gerakan pemberdayaan masyarakat secara gotong royong.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/anggota-dprd-palu-mutmainah-korona.jpg)