Breaking News:

Palu Hari Ini

Nasib Penyintas Triobencana Sulteng di Terminal Mamboro Palu: Dijanjikan Huntap Sejak April 2020

Hampir tiga tahun penyintas Triobencana Sulteng bertahan di Huntara belakang Terminal Induk Mamboro Palu, Kelurahan Mamboro, Kecamatan Palu Utara.

TRIBUNPALU.COM/SUTA
Nasib Penyintas Triobencana Sulteng di Terminal Mamboro Palu: Dijanjikan Huntap Sejak April 2020 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Ketut Suta

TRIBUNPALUM.COM, PALU - Hampir tiga tahun penyintas Triobencana Sulteng (Gempa, tsunami, dan likuefaksi) bertahan di Hunian Sementara (Huntara) belakang Terminal Induk Mamboro Palu, Kelurahan Mamboro, Kecamatan Palu Utara, Kota Palu.

Mercy Adone (60), salah seorang penyintas di huntara sekitaran Terminal Mamboro Palu mengatakan, dirinya sempat dijanjikan mendapat Hunian Tetap (Huntap) sejak dua tahun lalu.

Namun sampai saat ini dirinya belum menerima hunian layak tersebut.

"Lalu 15 orang sudah keluar namanya untuk mendapatkan Huntap, termasuk saya," ujar Mercy Adone kepada wartawan TribunPalu.com, Rabu (7/4/2021) pagi.

"Sudah dijanjikan lalu bulan April 2020 sebelum Corona, katanya sudah akan dipindah ke huntap Buddha Zhu Chi," tambahnya.

Baca juga: Temani Aurel Hermansyah Cek Kandungan, Atta Bagikan Kabar Bahagia: Alhamdulillah Kuasa Allah

Baca juga: Kesal Dennis Terus Berkelit Soal KDRT & Isu Perselingkuhan, Thalita Latief: Ngaku Tapi Nggak Ikhlas

Baca juga: Pasien Covid-19 Baru Sembuh Tak Disarankan Suntik Vaksin, Simak Penjelasannya

Penyintas bencana sejak 2018 silam itu menerangkan, berkas untuk pengurusan huntap terkendala di kantor kelurahan.

Ia sempat melaporkan langsung ke pihak BPBD Kota Palu mengenai hal tersebut.

"Sampai di kantor kelurahan ditunda berkasku, mengurusnya dipersulit," ujarnya.

"Kemudian saya mengadu ke BPBD, mereka suruh saya datang saja ke kantor kelurahan untuk tanda tangan berkas, pas saya datang kembali ke kelurahan, tapi saya tambah dipersulit lagi, dibilang saya bukan warga sini lah, dibilang berkasku tidak lengkap," terangnya.

Hingga saat ini Lansia itu terus memperjuangkan haknya untuk mendapatkan hunian layak.

Ia mengaku sejumlah keluarganya telah pindah ke Huntap.

Namun sampai detik ini ia masih tinggal di huntara.

"Itu saudara saya sudah pindah, tapi saya masih terkatung-katung tidak jelas," ujarnya.

"Saya hanya butuh perhatian dari pemerintah, apalagi tempat sekarang ini, wc-nya rusak," tutupnya. (*)

Penulis: Ketut Suta
Editor: Haqir Muhakir
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved