Apakah FPI Terlibat Penyerangan di Makassar dan Mabes Polri? Begini Pendapat Mantan Teroris
Mantan teroris Sofyan Tsauri menilai organisasi Front Pembela Islam (FPI) tidak terlibat dalam penyerangan di Makassar dan Mabel Polri.
TRIBUNPALU.COM - Mantan teroris Sofyan Tsauri menilai organisasi Front Pembela Islam (FPI) tidak terlibat dalam penyerangan di Makassar dan Mabes Polri.
Tudingan keterlibatan FPI dalam aksi penyerangan di Makassar dan Mabes Polri mencuat ketika ditangkapnya beberapa terduga teroris yang mengaku simpatisan ormas pimpinan Habib Rizieq Shihab (HRS) itu.
Apalagi, penangkapan terjadi hanya beberapa hari setelah aksi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar dan penyerangan 'lone wolf' di Mabes Polri.
Meski demikian, Sofyan menilai tidak ada keterlibatan FPI dengan dua aksi teror tersebut.
“Nggak ada hubungan dengan FPI, mereka memang generasi milenial, memang lahir di era milenium,” kata Sofyan dilansir dari kanal YouTube Karni Ilyas Club, Sabtu (10/4/2021).
Sofyan menjelaskan adanya motif berbeda di peristiwa bom bunuh diri Makassar.
Baca juga: Pengakuan Mantan Teroris Pernah Diracun Akibat Dituduh Habib Rizieq, Hampir Mati Dua Kali di Penjara
Perbedaan motif itulah yang menurut Sofyan bisa menguatkan tidak adanya keterlibatan FPI.
Ia mengatakan penangkapan terduga teroris yang mengaku simpatisan FPI dengan aksi teror di Makassar maupun Mabes Polri adalah kejadian berbeda.
“Itu nanti kejadian berbeda. Tetapi kejadian di Makassar itu memang ada motif dendam yang dilakukan Lukman dan Istrinya menjadi bom bunuh diri.”
“Tapi yang jelas mereka ini berbeda karena motivasinya beda. Kalau orang-orang yang ditangkap di Condet oleh Habib Husein lebih cenderung motifnya politik. Kalau ini kan memang ideologi, ciri khas banget ini kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD),” tutur Sofyan.
Cerita Sofyan Tsauri pernah dituduh HRS
Mantan teroris Sofyan Tsauri blak-blakan cerita pengalaman selama berada di dalam penjara bersama narapidana kasus terorisme lainnya.
Sofyan mengaku hari-harinya di dalam penjara dijalani dengan suasana menegangkan.
Teman-temannya sesama napi kasus terorisme digambarkan berwatak keras dan suka menuduh.
Selain itu kata Sofyan, mereka cenderung tidak menyukai orang lain yang memiliki ideologi berbeda.
Pengalaman mengerikan dialami Soyfan ketika dirinya pernah diracun narapidana lainnya.
Baca juga: Dikira Lelucon, Warganet Terkejut Mengetahui Kisah Dibalik Wanita Pamer Tangan dan Wajah Hangus
Baca juga: Antisipasi Dampak Pemanasan Global, Akademisi Untad Sarankan Pemerintah 3 Hal Ini
Menurut Sofyan, hal itu terjadi ketika Habib Rizieq Shihab (HRS) menuduh dirinya sebagai intel yang sengaja menyusup di antara para napi kasus terorisme.
Tuduhan itu sempat memicu ketegangan di dalam penjara.
Banyak napi mulai tak percaya pada Sofyan hingga nekat melakukan percobaan pembunuhan.
“Saya itu pernah di dalam penjara dua kali diracun, oleh kelompok ini (napi kasus terorisme). Karena memang waktu itu kan Habib Rizieq ini pernah menuduh saya ini sebagai intel ceritanya.”
“Karena menuduh saya sebagai intel penyusup, akhirnya orang-orang ini ada yang percaya dengan kata Habib ini. Padahal saya ini dipenjara, kalau saya intel kan saya nggak dipenjara kan,” cerita Sofyan dilansir dari kanal YouTube Karni Ilyas Club, Sabtu (10/4/2021).
Sofyan mengaku hampir mati dua kali akibat diracun narapida kasus terorisme lainnya.
Saat itu dirinya sampai dilarikan ke rumah sakit dan mengalami muntah-muntah.
“Saya digabungkan dengan ikhwan-ikhwan yang lainnya sesama teroris, udah gitu dituduh intel, teman-teman jadi gaduh."
“Akhirnya saya diracun dua kali, entah pake racun tikus, yang jelas saya masuk rumah sakit, muntah-muntah saya,”
“Saya hampir mati waktu itu, tapi alhamdulliah dokter cepat mengobati saya, keluar muntah semua,” tutur Sofyan.
Akibat kejadian itu, Sofyan mendapat satu pelajaran penting tentang karakter para pelaku teror.
Ia menjelaskan bahwa penganut paham radikal siap membunuh dan merampas harta siapa saja yang dianggap penyusup atau intel.
“Dalam terminologi kelompok jihad, kalau orang sudah dituduh jasus atau intel itu pasti halal darah hartanya,” katanya.
Sofyan Tsauri adalah mantan teroris yang ditangkap setelah terungkap adanya pelatihan militer para penganut paham radikal di Aceh.
Baca juga: Update Covid-19 Sulteng 9 April 2021: Poso dan Banggai Zona Merah, Bangkep-Balut Zona Kuning
Baca juga: Bikin Sedih, Anak Kecil Cium Foto Ayahnya di Buku Yasin: Yah Gendong, Ayah Ganteng, Dah Ayah
Baca juga: Majukan Sepak Bola Lokal, Komisi IV DPRD Sulteng Dorong Stadion Gawalise Jadi Sport Center
Saat itu dirinya berperan sebagai pemasok senjata dan peluru.
Akibat kejahatan yang dilakukannya, Sofyan mendapat vonis hukuman penjara selama 10 tahun.
Ia kemudian bebas di tahun ke 6 setelah mendapat remisi karena dianggap berkelakukan baik selama menjalani masa hukuman.
Saat ini Sofyan telah terbebas dari paham radikal dan sehari-hari membantu pihak kepolisian melaksanakan sosialisasi anti terorisme.
Mantan anggota Polri itu aktif membagikan pengalamannya kepada para anak muda atau generasi milenial, agar mereka tidak terpapar paham radikal.(*)