Breaking News:

Mengapa Suhu Udara Terasa Dingin Beberapa Hari Terakhir? Ini Penjelasan Ilmiah dari BMKG

Fenomena udara dingin dirasakan di sebagian wilaah Indonesia pada beberapa hari terakhir, BMKG memberikan penjelasan ilmiah terkati fenomena ini.

Penulis: Imam Saputro | Editor: Imam Saputro
KOMPAS.com/DOK UPT PENGELOLAAN OBYEK WISATA BANJARNEGARA
Embun es menyelimuti tanaman kentang di kompleks Candi Arjuna, Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Senin (34/6/2019). 

TRIBUNPALU.COM - Fenomena udara dingin dirasakan di sebagian wilaah Indonesia pada beberapa hari terakhir, BMKG memberikan penjelasan ilmiah terkati fenomena ini.

BMKG fdalam keterangannya menyatakan, fenomena suhu udara dingin sebetulnya merupakan fenomena alamiah yang umum terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau (Juli - September).

Saat ini wilayah Pulau Jawa hingga NTT menuju periode puncak musim kemarau.

Periode ini ditandai pergerakan angin dari arah timur, yang berasal dari Benua Australia.

Baca juga: Peringatan Dini BMKG Kamis 8 Juli 2021: Waspada Cuaca Ekstrem Hujan Petir Angin Kencang di 19 Daerah

Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Herizal, mengatakan pada bulan Juli, wilayah Australia berada dalam periode musim dingin.

Herizal mengatakan adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia atau dikenal dengan istilah Monsoon Dingin Australia.

“Angin monsun Australia yang bertiup menuju wilayah Indonesia melewati perairan Samudera Indonesia yang memiliki suhu permukaan laut juga relatif lebih dingin, sehingga mengakibatkan suhu di beberapa wilayah di Indonesia terutama bagian selatan khatulistiwa (Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara) terasa juga lebih dingin,” kata Herizal.

Selain dampak angin dari Australia, berkurangnya awan dan hujan di Pulau jawa hingga Nusa Tenggara turut berpengaruh ke suhu yang dingin di malam hari.

Sebab, tidak adanya uap air dan air menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer.

Tak hanya itu, langit yang cenderung bersih awannya (clear sky) akan menyebabkan panas radiasi balik gelombang panjang ini langsung dilepas ke atmosfer luar.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved