Rabu, 3 Juni 2026

Upacara Bakar Batu 2.500 Ekor Babi, Rekor MURI Pecah di Tanah Papua

Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatat sebuah rekor baru di tanah Papua. Rekor yang dipecahkan kali ini terbilang cukup unik.

Tayang:
Kompas.com/Garry Andrew L
Tradisi bakar batu di Ilaga Papua 

TRIBUNPALU.COM - Museum Rekor Indonesia (MURI) mencatat sebuah rekor baru di tanah Papua.

Rekor yang dipecahkan kali ini terbilang cukup unik, bahkan menjadi yang pertama di Indonesia.

Rekor ini dipecahkan dalam Konferensi Sinode KINGMI ke-XI di Kabupaten Mimika, baru-baru ini.

Dalam kegiatan yang berlangsung selama seminggu itu, ada sebanyak 2.500 ekor babi yang disajikan.

Semuanya dimasak secara adat Papua atau dikenal upacara Bakar Batu.

Potongan babi yang sudah dibersihkan, lalu dimasak berbalut sayuran, dan ditutup menggunakan tumpukan batu yang sudah dipanaskan.

Baca juga: Istri Jatuh Terpeleset, Pria Ini Emosi Lalu Hancurkan Trotoar: Tanggung Jawab Beta Pung Bini

Senior Manager MURI, Awan Rahargo, disela-sela penutupan konferensi KINGMI mengatakan prosesi bakar batu dengan 2.500 ekor babi dalam kegiatan ini merupakan suatu pencapaian rekor.

“MURI sudah mencatat dalam buku rekor yaitu tradisi bakar batu dengan hewan ternak terbanyak," katanya saat dihubungi Tribun-Papua.com, Senin (8/11/2021).

Kata dia, rekor tersebut tidak serta merta diberikan begitu saja.

"Selama 6 hari pelaksanaan konferensi, ternyata bakar batu melibatkan 2.500 ekor, ini jumlah yang sangat fantastis, telah memecahkan rekor,” tambahnya.

Dengan pemberian rekor MURI, Awan berharap dapat meningkatkan kecintaan warga Papua terutama generasi muda terhadap budaya dan tradisinya.

Sebab tradisi dan budaya ini merupakan kekayaan Indonesia secara umum, yang bisa dipertahankan turun temurun.

”Bakar batu adalah salah satu tradisi di Papua bahkan sebuah ritual untuk kebersamaan, ritual kegembiraan, silaturhami sesama masyarakat di Papua dan kami telah mencatat di buku rekor MURI ,” ujarnya.

Baca juga: Hadapi KKB Papua, Jenderal Andika Perkasa Punya Strategi Khusus: Menang Pertempuran Tanpa Peperangan

Sementara itu, Ketua Panitia Konfresi sinode KINGMI KE-XI, Willem Wandik mengatakan kegiatan Konfrensi KINGMI memiliki nilai tersendiri bagi jemaat.

"Bagi warga KINGMI terutama wilayah Pegunungan Tengah, pesta adat bakar batu, menjadi bagian penting dalam kegiatan konfrensi ini, sehingga warga membawa babi mereka untuk disumbang secara sukarela," jelasnya.

Tradisi bakar batu menandakan wujud ucap syukur kepada Tuhan atas penyerataanNya dalam gereja, maupun kehidupan mereka.

Kata willem, pihakya bersyukur pelaksanan konferensi sudah berlangsung aman, damai dan sukses.

"Banyak orang memprediksi bahwa kegiatan ini akan kacau namun atas Penyerataan Tuhan, kegiatan berjalan sukses. Kegiatan konfrensi telah sukses dan lancar,Ini mendatangkan bahwa ada kebangkitan gereja KINGMI ke depan,” ungkapnya.

Diketahui, Konferensi Sinode KINGMI ke-XI melahirkan sejumlah keputusan penting dalam rangka perkembangan pelayanan Gereja KINGMI di Tanah Papua 5 tahun ke depan.

Pendeta Telas Mom terpilih sebagai ketua Sinode 2021 hingga 2026. (*)

(Tribun-Papua.com)

Sumber: Tribun Papua
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved