Bacaan & Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 16 hingga 20, Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin dan Artinya
Berikut ini adalah bacaan dan tafsir Surah Al Muddassir lengkap dengan artinya dan tafsirnya.
maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan?
ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَۙ - ٢٠
20. ṡumma qutila kaifa qaddar
Sekali lagi, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan?
Baca juga: Bacaan & Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 1 hingga 5, Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin dan Artinya
Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 16 hingga 20
Ayat 16
Aneka nikmat yang dianugerahkan kepadanya mestinya dia syukuri dengan berbuat baik, ternyata malah membangkang maka tidak bisa terpenuhi keinginannya!
Sesungguhnya dia telah menentang ayat-ayat Kami yakni Al-Qur’an.
Allah menegaskan bahwa sikap al-Walid itu tidak akan menambah apa yang diinginkannya, karena sesungguhnya ia menentang ayat-ayat-Nya.
Allah sekali-kali tidak akan mengabulkan kehendaknya. Bahkan menurut riwayat, semenjak turunnya pernyataan Allah ini, harta dan kekayaan al-Walid semakin berkurang.
Anak pun begitu, meninggal satu persatu sehingga habis semua. Akhirnya al-Walid tinggal sebatang kara.
Al-Walid selalu menunjukkan secara terang-terangan sikap menentang terhadap apa yang disampaikan Nabi Muhammad, berupa dalil-dalil tentang keesaan dan kekuasaan Allah, penjelasan tentang adanya hari kebangkitan, keterangan tentang risalah dan nubuat yang beliau bawa, dan lain-lain.
Al-Walid menentang dengan keras wahyu Allah yang diturunkan melalui Muhammad saw.
Oleh karena itu, ia berusaha pula hendak berbicara meniru gaya Al-Qur'an.
Dia menganggap kalau Allah tetap hendak mengutus seorang rasul di kalangan bangsa Arab, maka tidak ada yang lebih pantas untuk menerima tugas suci itu melainkan dia sendiri.
Begitulah kesombongan dan sikap keras kepala menghilangkan segala kesenangan duniawinya.
Segi lain yang kita ambil dari ayat ini adalah keingkaran al-Walid terhadap Allah dikategorikan kufur 'inad, maksudnya dia tahu betul dan mengakui dengan hati kecilnya bahwa apa yang disampaikan Nabi Muhammad adalah benar, namun lidah (ucapan) tetap mengingkarinya.
Inilah jenis kekafiran yang paling kotor dan keji.
Seperti banyak terdapat pada masa sekarang. Hati kecil mengakui ajaran agama itu benar dan menguntungkan, namun lidah tetap menentang karena berbagai faktor.
Ayat 17
Allah melanjutkan ancamannya terhadap yang menolak kebenaran Al-Qur’an.
Karena ia berkeras menolak ayat-ayat-Ku, maka Aku akan membebaninya dengan pendakian yang memayahkan.
Dalam ayat ini, Allah menegaskan bahwa Dia akan memikulkan kepada al-Walid pendakian yang memayahkan.
Maksudnya adalah Tuhan melemparkannya ke dalam neraka yang sangat dahsyat yang tidak ada sanggup ditahan sakitnya.
Diibaratkan Allah bahwa kesukaran yang kelak dirasakan pada hari Kiamat diibaratkan seperti pendaki gunung yang disuruh memikul beban yang berat.
Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa arti sa'ud (pendakian) dalam ayat ini adalah sebagai berikut:
Sa'ud adalah gunung api (di neraka) yang akan didaki oleh orang-orang kafir selama 70 tahun dan kemudian mereka (yang mendakinya) jatuh lagi ke bawah.
Begitulah berulang-ulang untuk selama-lamanya.
(Riwayat Ahmad dan at-Tirmidhi dari Abu Sa'id) Ada yang mengartikan sa'ud itu dengan suatu azab yang kalau sudah menimpa seseorang, tidak akan pernah berhenti.

Baca juga: Bacaan & Tafsir Surah Al Muddassir Ayat 1 hingga 5, Lengkap dengan Tulisan Arab, Latin dan Artinya
Ayat 18
Sesungguhnya dia yang sangat keras kepala itu telah memikirkan dengan sungguh-sungguh untuk mencari kelemahan Al-Qur’an dan menetapkan apa yang ditetapkannya
Ayat ini menerangkan bahwa sesungguhnya al-Walid memikirkan dan memahami wahyu Allah yang telah didengarnya.
Akan tetapi, dia berusaha pula hendak menyusun kata-kata sendiri dengan maksud hendak mencela apa yang ada dalam Al-Qur'an.
Dia mereka-reka perkataan lain yang bersifat menentang Al-Qur'an, sehingga orang Quraisy merasa senang dengannya, merasa cocok keinginan mereka dengan al-Walid.
Ayat 19
maka celakalah dan terkutuklah dia! Bagaimana dia menetapkan? Sungguh aneh caranya.
Sekali lagi, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan?
Allah mengutuk al-Walid dengan kata-kata "celakalah dia, bagaimana dia menetapkan?"
Terkutuklah al-Walid dan orang Quraisy yang berbuat seperti itu. Sehubungan dengan hal ini, Allah berfirman: Dan orang-orang Yahudi berkata, "Uzair putra Allah," dan orang-orang Nasrani berkata, "Al-Masih putra Allah."
Itulah ucapan yang keluar dari mulut mereka.
Mereka meniru ucapan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (at-Taubah/9: 30)
Ayat 20
Sungguh aneh caranya. Sekali lagi, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Sungguh tidak masuk akal sehat.
Sungguh aneh caranya. Sekali lagi, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Sungguh tidak masuk akal sehat.
(TribunPalu/Kim)