Minggu, 26 April 2026

Sulteng Hari Ini

Ekonom Untad Eko Jokolelono Harap Mahasiswa Bangun Ekonomi Desa Usai Lulus Kuliah

Ekonom Universitas Tadulako (Untad) Eko Jokolelono menyebut ekonomi pedesaan sebagai "raksasa ekonomi" yang sedang tidur.

Editor: Haqir Muhakir
TRIBUNPALU.COM/FANDY
Ekonom Untad Eko Jokolelono (tengah) menjadi pembicara di acara dialog HMI Cabang Palu bertajuk "Kupas Tuntas Kebijakan Harga BBM Bersubsidi", Jumat (2/9/2022) malam. 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Fandy Ahmat

TRIBUNPALU.COM, PALU - Ekonom Universitas Tadulako (Untad) Eko Jokolelono menyebut ekonomi pedesaan sebagai "raksasa ekonomi" yang sedang tidur.

Hal itu ia utarakan saat menghadiri dialog Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Palu bertajuk "Kupas Tuntas Kebijakan Harga BBM Bersubsidi", Jumat (2/9/2022) malam.

Kegiatan itu dihadiri puluhan aktivis mahasiswa tergabung dalam kelompok Cipayung Plus di Kota Palu.

Eko memulai paparan ketika mendapat undangan dari sebuah stasiun televisi untuk membahas seputar daya saing sekitar 9-10 tahun lalu.

Dalam kesempatan itu, ia sempat mengusulkan agar pemerintah mencabut subsidi bahan bakar minyak (BBM).

"Waktu itu saya bilang cabut subsidi, kalau tidak desa dalam bahaya. Mungkin pendapat saya ini agak bertentangan. Tetapi saya perlu menekankan bahwa infratruktur di sektor pertanian tidak pernah diperbaiki, padahal pertanian selama ini menjadi penopang kehidupan di pedesaan," ujarnya.

Eko menjelaskan, jauh-jauh hari sebelumnya dirinya sudah menyuarakan agar subsidi BBM dicabut dan alihkan ke sektor pertanian.

Saat itu, ia meragukan bahwa program BBM subsidi tersebut akan benar-benar tepat sasaran.

Anggapan itu kemudian terbukti beberapa waktu terakhir seiring munculnya wacana pemerintah bakal menaikkan harga BBM jenis pertalite dan solar bersubsidi.

Sebab, data Kementerian ESDM menunjukkan bahwa 80 persen penikmat BBM subsidi adalah orang-orang mampu.

"Saya minta subsidi alihkan ke infrastruktur pertanian, bukan serta merta dicabut. Sekarang terbukti, BBM subsidi ini tidak tepat sasaran. Feeling saya jauh-jauh hari memang sudah ke situ arahnya," jelas Eko.

Di sisi lain, Eko menyebut produksi beras di 9 daerah Sulawesi Tengah (Sulteng) saat ini lebih rendah ketimbang kebutuhan masyarakat.

Sehingga melalui UU Ketahanan Pangan, wilayah surplus pangan akan memasok kebutuhan di daerah defisit pangan.

Selama puluhan tahun Eko memilih fokus terhadap kehidupan ekonomi di wilayah pedesaan termasuk di Sulawesi Tengah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved