Partai Nasdem Depak Jenderal Andika dan Ganjar, Anies Baswedan Didorong Jadi Capres 2024?

Partai Nasdem telah mengumumkan nama Jenderal Andika Perkasa, Ganjar Pranowo, dan Anies Baswedan untuk menjadi kandidat Capres 2024.

Editor: Muh Ruliansyah
handover
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan bertemu dengan Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh di kantor DPP NasDem Jakarta Pusat, Rabu (24/7/2019). 

TRIBUNPALU.COM - Partai Nasdem telah mengumumkan nama Jenderal Andika Perkasa, Ganjar Pranowo, dan Anies Baswedan untuk menjadi kandidat Capres 2024.

Tetapi belakangan, Anies Baswedan dijagokan menjadi Capres 2024 yang bakal diusung Partai Nasdem.

Lantas siapa sosok Cawapres yang akan digaet Anies Baswedan?

Sosok anak presiden yang dimaksud adalah Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), putra Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Baca juga: Gelar Rapimnas 15-16 September 2022, Partai Demokrat Bakal Tentukan Capres dan Cawapres 2024

Dalam komunikasi politik yang intens dilakukan antara Partai Demokrat dan Partai NasDem, Koordinator Juru Bicara Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra memberikan sinyal untuk mengusung Anies-AHY di Pilpres 2024 mendatang.

Menurut Herzaky, kedua tokoh tersebut mewakili semangat perubahan dan perbaikan.

Herzaky mengklaim, keinginan mengusung capres-cawapres dengan semangat itu pun juga diinginkan oleh Partai Nasdem dan PKS.

Direktur Lembaga Kajian Politik Nusakom Pratama, Ari Junaedi, menyebutkan, wacana menduetkan Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Pilpres 2024 mendatang memiliki daya pikat untuk menarik dukungan dari masyarakat yang kontra dengan pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurutnya, jika keduanya jadi diusung oleh Partai Nasdem, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Demokrat di Pilpres 2024, Anies-AHY berpeluang untuk menyatukan suara-suara penentang Jokowi di Pilpres 2014 dan 2019 lalu.

“Karena sikap mereka berdua nampak kontradiktif dengan pandangan Jokowi, tetapi punya daya pikat bagi mereka (masyarakat) yang anti Jokowi dan menyatukan suara-suara penentang Jokowi di dua Pilpres kemarin,” papar Ari dikutip dari Kompas.com, Kamis (8/9/2022).

Meski demikian, ia ragu apabila loyalis Jokowi akan memilih pasangan itu.

Namun, kondisi itu dapat diatasi dengan melebarkan pengaruh pada konstituen lainnya.

Caranya, kata Ari, dengan melepaskan citra kepemimpinan yang sektarian dan anti pluralisme, lalu beralih menonjolkan sisi tokoh pemimpin muda yang membawa harapan.

“Mereka harus ‘menjual’ cap dagangan politik sebagai pemimpin muda yang berprospek,” ucapnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Palu
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved