Sulteng Hari Ini
Februari-September 2022, Sulteng Diguncang Gempa 1200 Kali, Terbanyak di Parigi Moutong
Wilayah yang paling banyak mengalami guncangan Gempa Bumi di teluk Tomini, Kabupaten Parigi Moutong.
Laporan Wartawan TribunPalu.com, Alan Sahril
TRIBUNPALU.COM,PALU - Kepala Seksi Data dan Informasi Kantor BMKG Stasiun Geofisika Palu Hendrik Leopatty mengungkapkan, Sulawesi Tengah telah mengalami 1200-an guncangan Gempa Bumi periode Februari-September 2022.
"Dari 1200-an itu, 400 berada disekitar Sesar Palu Koro," ujar Hendrik Leopatty, Sabtu (29/10/2022) siang.
Ia menambahkan, wilayah yang paling banyak mengalami guncangan Gempa Bumi di teluk Tomini, Kabupaten Parigi Moutong.
Disusul wilayah Matano di Kabupaten Morowali, dan Tambarana Sausu Kabupaten Poso.
"Itu untuk wilayah yang paling banyak diguncang Gempa Bumi. Sedangkan untuk data pastinya berapa, saya belum pegang saat ini, tapi itu data terakhir bulan kemarin yang saya lihat," ungkap Hendrik Leopatty.
Baca juga: Belajar dari Gempa 2018, IKA Teknik Untad Gagas Emergency Shelter untuk Korban Bencana
Hendrik Leopatty menambahkan, setiap wilayah di Sulteng memiliki karakter sesar tersendiri.
Hal inilah yang menjadikan Sulteng sebagai wilayah dengan potensi Gempa Bumi tertinggi di Indonesia.
"Misalnya antara Sesar Palu Koro dengan Tambarana Poso dan lainnya beda-beda karakternya," kata Hendrik Leopatty.
Olehnya, Ia mengimbau agar masyarakat harus tetap tenang saat merasakan gempa.
Karena sebenarnya gempa tidak membunuh manusia.
"Misalnya, dirumah karena memanfaatkan ruang kosong maka ditaruhlah benda berat atau besar di atas lemari. Saat terjadi gempa benda itu ternyata yang menimpa dirinya, jadi alangkah lebih bijak kalau misalnya menaruh benda berat itu jangan diatas lemari tetapi dibawah," imbuhnya.
Baca juga: Gempa Magnitudo 2,9 Guncang Kaleke Sigi, Tak Berdampak Kerusakan Bangunan
Hendrik Leopatty juga berpesan, jika masyarakat mendapatkan informasi terkait gempa yang akan melanda suatu wilayah, sesungguhnya itu ialah hoaks.
Menurut Hendrik Leopatty, tidak ada alat yang bisa memprediksi suatu wilayah akan mengalami gempa.
"Kalau mendapatkan informasi itu jangan diteruskan, karena itu hoax. Lebih baik didiamkan saja biar tidak bikin panik informasi hoaks seperti itu," pesan Hendrik Leopatty.(*)