OPINI
Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia di Indonesia
Menurut data Kementerian Ketenagakerjaan, sebelum pandemi covid-19 angka TKA yang bekerja di Indonesia mencapai 109,55 ribu manusia hingga akhir 2019.
Hanum Salsabila Djirimu
Mahasiswi Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang
TRIBUNPALU.COM - Indonesia adalah negara yang kaya akan populasi sumber daya alamnya.
Sumber daya alam yang kaya ini merupakan pondasi serta modal pembangunan ekonomi yang tentunya di dukung Sumber Daya Manusia yang memadai.
Sumber Daya Manusia digunakan secara relevan sebagai penggerak sumber daya lain dan memiliki posisi signifikan yang berpartisipasi untuk mewujudkan kinerja organisasi perusahaan dengan keunggulan kompetitif (Wright: 2005).
Sebagaimana ditegaskan Aulus dan Anantharaman (2003) bahwa pengembangan Sumber Daya Manusia memiliki hubungan langsung dengan profitabilitas organisasi.
Dari kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa SDM di Indonesia harus dibentuk kualitas tiap individunya agara dapat ikut serta berpartisipasi membangun negaranya.
Namun pada kenyataannya masih begitu banyak tenaga kerja asing (TKA) yang menguasai ruang lingkup pekerjaan di Indonesia.
Menurut data Kementerian Ketenagakerjaan, sebelum pandemi covid-19 angka TKA yang bekerja di Indonesia mencapai 109,55 ribu manusia hingga akhir 2019.
Namun, pada awal tahun 2020 ketika pandemi jumlah TKA di Tanah Air berkurang 15,79 ribu orang (14,4 persen), menyisakan 93,76 ribu pekerja pada akhir 2020.
Demikian pula sepanjang 2021, jumlahnya kembali berkurang 5,49 ribu orang (5,85 persen) menjadi 88,27 ribu pekerja.
Ketika memasuki tahun ini jumlah TKA di Indonesia bertambah 8,3 ribu orang (9,4 persen), sehingga totalnya menjadi 96,57 ribu pekerja pada akhir Mei 2022.
Hal ini terjadi karena dilonggarkannya pembatasan kegiatan sosial, yang berdampak pada tumbuhnya aktivitas ekonomi.
Firdaus Alamsjah, Wakil Eksekutif Binus Business School pada pembukaan ASEAN Youth Leadership 2009, di Jakarta mengatakan, jumlah penduduk di Indonesia kurang lebih 250 juta jiwa, dan 25 persen atau sekitar 50 juta jiwa adalah generasi muda.
Akan tetapi, angka yang 50 juta jiwa itu belum tereksplorasi dengan baik.
