OPINI
OPINI: Driver Ojol, Makin Terpinggirkan???
DI era zaman digital saat ini banyak sekli aplikasi yang memudahkan masyarakat untuk beraktivitas apalagi di tengah kesibukan yang begitu padat sehing
Oleh : Sri Yanti,.S.Pd.I
DI era zaman digital saat ini banyak sekli aplikasi yang memudahkan masyarakat untuk beraktivitas apalagi di tengah kesibukan yang begitu padat sehingga banyak pengusaha yang membuat usaha mereka berbasis online tanpa terkecuali tukang ojek bahkan kita kenal dengan sebut ojol atau ojek online.
Ojek online muncul pertama kali pada tahun 2010-2015 begitu membanjiri dan peminatnya begitu banyak namun seiring berjalan waktu pengahasilan ojek online berbanding terbalik dengan saat ini, pasalnya pemasukan ojek online semakin berkurang dengan adanya potongan dari aplikasi sekitar 10-20 persen sehingga banyak ojek online yang semakin kekurangan biaya kehidupan di tengah paska pandemi saat ini.
"Memang yang membuat ini terus menurun karena banyak potongan perusahaan aplikasi terhadap pengemudi ojek online. Hal ini sebagai gambaran perusahaan tidak memperhatikan, tidak merawat pengemudinya, namun hanya profit oriented saja," kata Igun kepada CNBC Indonesia, dikutip Minggu (2/4/2023).
Dia menjelaskan yang berlaku saat ini adalah potongan lebih dari 20 persen, sementara pihaknya telah meminta untuk maksimal melakukan potongan sebanyak 10 persen.
Baca juga: OPINI: Belajar untuk Mengajar
Menurutnya, jika tidak ada penurunan potongan, bakal ada krisis pengemudi ojol di masa depan. Bahkan dia mengatakan fenomena ini akan terjadi dalam lima tahun ke depan di kota-kota besar.
"Selagi tidak terlaksana, kami yakin jumlah pengemudi akan terus menurun. Bisa dilihat ke depannya pada kota-kota besar jumlah ojek online semakin menurun untuk lima tahun ke depan," jelasnya.(https://www.cnbcindonesia.com/tech/20230402102721-37-426569/krisis-ojol-menghantam-grab-gojek-bakal-pusing-cari-driver).
Banyaknya pemotongan dari aplikasi membuat ojek online banyak yang beralih profesi mulai dari jadi pengusaha kecil-kecilan, pedagang atau menjadi petani di kampung karna banyaknya jam kerja tidak sebanding dengan pemasukan Setiap hari bahkan banyak tukang ojek online yang harus banting setir menjadi kuli karna harus mencukupi biaya hidup yang semakin meningkat.
"Makin ke sini makin menurun lagi karena perusahaan aplikasi menerapkan potongan di luar dari permintaan kita sangat tinggi," ungkap Igun kepada CNBC Indonesia, dikutip Sabtu (1/4/2023).
Igun mengungkap, penurunan tersebut membuat sebagian besar driver memutuskan untuk beralih profesi, salah satunya adalah menjadi pegawai kantoran dan wirausaha.
Baca juga: OPINI: HUT Ke-15 Bawaslu Dihadapkan dengan Tahapan Pemilu 2024, Kerja Profesional dan Berintegritas
"Ramai-ramai beralih profesi. Mencari profesi yang lebih permanen dan bisa memberi penghasilan untuk menafkahi keluarganya. Minimal bisa punya penghasilan UMP," jelas Igun.
Kini, pekerjaan sebagai driver ojol tidak lagi dijadikan sebagai sumber pendapatan utama, melainkan sebagai profesi sampingan (https://www.cnbcindonesia.com/tech/20230401122606-37-426410/tragis-nasib-driver-ojol-mimpi-kaya-malah-penghasilan-cekak).
Penghasilan driver ojek online (ojol) mengalami penurunan signifikan sejak beberapa tahun lalu, akibat potongan besar yang dilakukan oleh aplikator.
Hal ini terjadi karena hubungan kerja yang dilandaskan kepada sistem kapitalisme, sehingga Ojol menjadi sapi perah pengusaha kapitalis dan terbukti dengan banyaknya potongan besar namun tidak melihat bagaimana kesejahteraan Drive ojek online itu sendiri membuat mereka banyak yang beralih profesi.
Rendahnya gaji Drive ojek online membuktikan gagalnya negara dalam mengurusi rakyatnya karna tanggung jawab negara adalah mensejahterakan rakyatnya dengan menyediakan lapangan pekerjaan dan gaji yang layak untuk rakyat yang bekerja namun pada faktanya hari ini negara hanya berperan sebagai regulator namun tidak melihat kondisi masyarakat di lapangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Sri-Yanti-SPdI-sdvd.jpg)