Senin, 20 April 2026

Palu Hari Ini

Hassar dan Dokarnya, Menjaga Tradisi di Tengah Deru Modernitas Kota Palu

Di tengah gemuruh kendaraan bermotor dan kemegahan gedung-gedung modern yang terus menjamur di Kota Palu, ada sosok yang tetap setia menjaga tradisi. 

Penulis: Zulfadli | Editor: Haqir Muhakir
Zulfadli
Di tengah gemuruh kendaraan bermotor dan kemegahan gedung-gedung modern yang terus menjamur di Kota Palu, ada sosok yang tetap setia menjaga tradisi.  

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Zulfadli 

TRIBUNPALU.COM, PALU - Di tengah gemuruh kendaraan bermotor dan kemegahan gedung-gedung modern yang terus menjamur di Kota Palu, ada sosok yang tetap setia menjaga tradisi. 

Dialah Hassar, pria 57 tahun yang masih menggantungkan hidupnya pada suara langkah kuda dan roda Dokar yang berderit pelan di jalanan Kota Palu.

Sudah 30 tahun lebih Hassar mengabdikan hidupnya sebagai kusir dokar, profesi yang kini mulai digilas oleh teknologi dan gaya hidup modern. 

Sejak duduk di bangku kelas 3 SD, Hassar telah memegang tali kendali kuda, melintasi jalanan kota yang kini jauh berbeda dari masa kecilnya. 

Baca juga: Kabupaten Buol Sulteng Diguncang Gempa Magnitudo 2,9 Hari Ini

Namun, bagi Hassar, perubahan zaman bukan alasan untuk menyerah pada apa yang sudah menjadi bagian dari dirinya.  

Setiap pagi, sekitar pukul 07.00 WITA, Hassar sudah bersiap di tempatnya biasa mangkal di Area Pasar Inpres di Kelurahan Balaroa, Kecamatan Palu Barat. 

Dengan dokar tua yang ditarik seekor kuda cokelat jantan, ia sabar menunggu penumpang hingga pukul 11.00 WITA. 

Penumpang yang datang memang tak seramai dulu, kebanyakan ibu-ibu atau anak-anak yang masih menyukai suasana nostalgia dari transportasi tradisional ini.  

“Sekarang tinggal sedikit yang naik dokar, paling ibu-ibu atau kalau ada yang mau angkut barang banyak. Tapi alhamdulillah, masih ada rezeki,” ujar Hassar sambil tersenyum, Sabtu (29/12/2024).  

Hassar mematok tarif yang terjangkau, antara Rp10 ribu hingga Rp30 ribu, tergantung jarak. 

Kadang, ia membawa penumpang ke daerah-daerah sekitar Kota Palu seperti Nunu, Pasar Tua, Ujuna, hingga BTN Palupi.

Sesekali, ada penumpang yang baik hati membayarnya lebih, bahkan memberikan Rp50 ribu tanpa meminta kembalian.  

Dari usahanya ini, pria yang murah senyum ini bisa mengantongi penghasilan harian sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. 

Uang itu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, bahkan ia berhasil membesarkan dua anak laki-lakinya hingga kini mereka berkeluarga.  

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved