KPR BTN Wujudkan Mimpi Pekerja Informal Miliki Rumah Sendiri: Kerja Tentram, Ekonomi Makin Nyaman
Visi baru BTN bertransformasi menjadi bank dengan layanan “beyond mortgage”, artinya tidak hanya sebatas KPR.
Penulis: Imam Saputro | Editor: Wahid Nurdin
TRIBUNNEWS.COM - Suratini, 58 tahun, tampak cekatan melayani pembeli di sisi selatan Pasar Harjodaksino, Solo, Jumat 14 Februari 2024 siang. Tangannya sigap mengambil tahu dari ember besar di hadapannya. Sambil membungkus tahu ke dalam plastik, ia juga menjawab pertanyaan dari para pembeli yang ingin membeli tempe atau tahu dagangannya.
“Tempe besar enam ribu, kecil lima ribu, tahu boleh lima ribu atau enam ribu,” kata Suratini kepada calon pembeli.
Suratini berjualan hanya dibawah payung besar yang digunakan bersama, satu payung untuk dua pedagang, bukan di kios pasar. Suratini setiap hari duduk di atas bangku dikelilingi ember besar yang berisi tahu serta nampan bambu berisi tempe di sisi selatan Pasar Harjodaksino, Serengan Solo.
Sehari-hari Suratini berjualan tempe dan tahu di sisi selatan Pasar Harjodaksino mulai pagi hingga sore. “ Dari anak pertama sudah jualan, tempe sama tahu, dulu tempe masih harga ratusan perak, sekarang sudah lima ribuan satu papan,” jelas wanita yang berusia 58 tahun ini.
“ Untung seribu dua ribu disyukuri, untuk bayar cicilan rumah” kata dia sambil tersenyum.
Dengan profesinya yang sudah ditekuni sejak puluhan tahun ini, Suratini bangga bisa membeli rumah pertamanya pada 2014 melalui KPR BTN Syariah. Suratini membeli rumah pertamanya di Perum Turen Asri, Grogol, Sukoharjo melalui Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) di Bank Tabungan Negara (BTN) Syariah.
“ Waktu pertama beli rumah ini tahun 2014 ukurannya masih 27 meter persegi, tanahnya 60 meter, hanya ada kamar satu, ruang tengah dan WC, tapi Alhamdulillah sudah rumah sendiri,” kata Suratini.
Pernah Tinggal di Tanah Negara
Sebelum akhirnya memiliki rumah sendiri di Turen, Suratini tinggal di rumah tidak permanen di kawasan Kenteng, Semanggi, Solo.
“Sebelum punya rumah di Turen, pernah ngontrak di Kenteng, Semanggi, bukan di tanah sendiri, itu juga bayar ke orang, meski tanah punya negara, atine ora ayem (hati gelisah), bisa digusur sewaktu-waktu kalau tanah itu mau dipakai pemerintah,” ujarnya.
Karena tinggal di atas tanah “ilegal”, Suratini memberanikan diri untuk mulai bermimpi bisa membeli rumah sendiri. “ Kuncinya nabung, tiap hari saya sisihkan beberapa puluh ribu buat beli rumah, meski belum tahu juga belinya dimana dan harganya berapa,” jelasnya.
Impian pedagang tempe untuk punya rumah sendiri mulai menemui titik terang pada pertengahan 2013, ketika ada sesama pedagang pasar yang memberitahunya ada perumahan di Sukoharjo yang tengah dibangun dengan harga murah.
“ Waktu itu tertarik, mulai tanya-tanya, bagaimana cara belinya,” cerita Suratini.
Suratini mengatakan, pada tahun tersebut harga rumah sekitar 100 juta rupiah dan bisa dicicil melalui bank. “ Saya tahunya bisa dicicil ke bank, ke BTN karena paling murah nyicilnya, dan mulailah saya mencoba daftar, karena kalau cash segitu ya tidak ada uangnya.”
Tak sampai dua bulan menunggu, pengajuan KPR Suratini mulai diproses. “ Awalnya ada petugas yang ke pasar, nyateti (mencatat) keuangan sehari-hari saat berjualan, karena saya wong ndeso tidak mudeng catatan keuangan,” cerita Suratini.
| Menteri Nusron Wahid Paparkan Rencana Restrukturisasi Tanah Saat Kuliah Umum di Unwahas |
|
|---|
| Siapkan Cadangan, Banggai Laut dan Banggai Kepulauan Ikuti Seleksi Sapi Kurban Presiden |
|
|---|
| Profil Jumhur Hidayat, Aktivis Buruh Eks Terpidana Era Jokowi Jadi Menteri LH |
|
|---|
| Daftar 6 Pejabat Baru yang Dilantik Presiden Prabowo Beserta Jabatannya |
|
|---|
| Daftar Tokoh dan Pejabat yang Merapat ke Istana Jelang Reshuffle Kabinet Sore Ini |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/SURATINI-PENJUAL-TEMPE.jpg)