Kamis, 7 Mei 2026

Parigi Moutong Hari Ini

Terhimpit Ekonomi, Pasutri asal Parimo Sulteng Jadikan Kandang Babi Sebagai Hunian

Pasangan Suami Istri (Pasutri) Wayan Budayasa dan istrinya I Made Darmihati, terpaksa tinggal di bekas kandang babi sejak tahun 2019.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Abdul Humul Faaiz | Editor: Fadhila Amalia
Faaiz/TribunPalu
Pasangan Suami Istri (Pasutri) Wayan Budayasa dan istrinya I Made Darmihati, terpaksa tinggal di bekas kandang babi sejak tahun 2019. Mereka tinggal di Dusun II, Desa Torue, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, di atas lahan milik sendiri, Senin (5/5/2025) 

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Abdul Humul Faaiz

TRIBUNPALU.COM, PARIMO - Pasangan Suami Istri (Pasutri) Wayan Budayasa dan istrinya I Made Darmihati, terpaksa tinggal di bekas kandang babi sejak tahun 2019.

Mereka tinggal di Dusun II, Desa Torue, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, di atas lahan milik sendiri.

Bangunan bekas kandang seluas 2 x 7,5 meter itu mereka bagi menjadi ruang tidur, kamar mandi dan dapur seadanya lantaran terhimpit ekonomi.

Baca juga: Curah Hujan Tinggi, Satlantas Parimo Imbau Warga Waspada Longsor di Jalur Kebun Kopi

Sebelumnya, mereka tinggal di rumah tidak jauh dari lokasi tersebut, namun bangunan lama rusak berat dan nyaris roboh.

“Saya bersihkan kandangnya, lalu kami tempati karena tak sanggup bangun rumah baru,” ujar Wayan kepada TribunPalu.com, Senin (5/5/2025).

Ia mengaku pernah didata untuk mendapat bantuan rumah dari desa dan komunitas, tapi hingga kini belum ada hasilnya.

Pembangunan bantuan rumah tahun 2015 juga terhenti di tahap pondasi dan tak pernah dilanjutkan pemerintah.

Wayan juga pernah didatangi orang yang mengaku tim sukses saat Pilkada, yang meminta data tapi tak pernah kembali.

Kini, Wayan hanya mampu bekerja ringan karena menderita saraf terjepit, jauh berbeda dengan kondisi sehat dulu.

Ia kadang menjemur padi atau menggiling kelapa jika ada permintaan dari tetangga dekat rumah mereka.

Istrinya membuat anyaman daun kelapa untuk sesajian, dijual dengan harga Rp4.500 hingga Rp800 per satuannya.

Hasil jualan itu dipakai untuk membeli beras, yang dijual di depan Kantor Polsek Torue, dan selalu ada yang membeli.

Wayan memiliki tiga anak, dua laki-laki yang kini bekerja sebagai buruh serabutan dan satu perempuan.

“Kalau makan, kami masih bisa cari. Tapi untuk bangun rumah, kami benar-benar tidak mampu,” tuturnya lirih.

Ia juga mengaku sudah dua tahun tak lagi menerima bantuan sembako.

"Tapi syukurnya kami mendapat Rp400 ribu tiap tiga bulan," pungkasnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved