OPINI

Inklusi Keuangan Bantu Keluarga Rancang Peta Jalan Masa Depannya

Iwan menyadari bahwa dalam dunia yang terlalu cepat dan bising dewasa ini, keluarga mereka memang masih kecil dan rapuh.

|
Editor: mahyuddin
HANDOVER
Aslamuddin Lasawedy, Perencana Keuangan Independen. 

Aslamuddin Lasawedy CFP®

Perencana Keuangan Independen

TRIBUNPALU.COM - Iwan dan Rani adalah Pasangan Suami Istri yang masih muda. 

Mereka tidak masuk kategori miskin.

Namun, mereka merasa menjalani hidup ini, seperti tak pernah punya cukup uang. Iwan bekerja sebagai staf logistik di sebuah perusahaan ekspedisi.

Sedang Rani sudah tidak bekerja lagi, sejak Nayla, anak pertama mereka, lahir dua tahun lalu.

Rumah kecil mereka berada di pinggiran kota.

Mereka punya motor yang cicilannya masih tiga bulan lagi. Pun punya banyak impian yang belum sempat terealisasi. 

Suatu sore, saat rintik hujan turun dan listrik padam.

Mereka menyalakan lilin, lantas berbincang di teras rumah sambil menyeruput teh hangat. 

Nayla tertidur di pangkuan Rani. Saat itulah, dari remang cahaya lilin, percakapan dimulai.

“Aku baca artikel tadi siang, katanya inklusi keuangan itu penting,” tutur Rani sambil mengusap rambut Nayla.

Iwan mengernyitkan keningnya “Inklusi ? Itu semacam seminar bank ya ?”

Rani tertawa kecil. “Bukan. Maksudnya, semua orang punya akses yang sama ke layanan keuangan formal. Bukan cuma punya rekening saja, tapi juga ngerti cara pakainya.”

Iwan terdiam sejenak. Lalu membuka dompetnya.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved