Sekolah Rakyat Terapkan Sistem Multi Entry Multi Exit, Belajar Disesuaikan dengan Kemampuan Siswa
Sistem ini menawarkan pendekatan revolusioner dengan memperhatikan kecepatan belajar dan kebutuhan individual siswa.
TRIBUNPALU.COM - Di tengah tuntutan akan pendidikan yang lebih inklusif, adaptif, dan berpusat pada peserta didik, Sekolah Rakyat resmi mengimplementasikan sistem pembelajaran Multi Entry Multi Exit (MEME) mulai tahun ajaran 2025/2026.
Sistem ini menawarkan pendekatan revolusioner dengan memperhatikan kecepatan belajar dan kebutuhan individual siswa.
Penerapan sistem ini menjadi bagian dari transformasi besar pendidikan nasional yang menekankan pentingnya akses yang merata dan kualitas pembelajaran yang setara bagi seluruh anak Indonesia, tanpa memandang latar belakang sosial maupun tingkat kemampuan awal.
Belajar Sesuai Kecepatan dan Kebutuhan Anak
Kepala Sekolah Rakyat Menengah Pertama Kota Administrasi Jakarta, Regut Sutrasto, menjelaskan bahwa sistem MEME memungkinkan siswa untuk memulai dan menyelesaikan pembelajaran sesuai dengan perkembangan kompetensinya, bukan berdasarkan waktu atau usia semata.
“Anak-anak tidak dipaksa untuk belajar seragam. Kalau mereka sudah menguasai satu materi, mereka bisa langsung lanjut ke topik berikutnya. Tapi kalau belum, kami akan bantu dengan materi tambahan, remedial, atau pendekatan yang lebih sesuai,” ujar Regut saat ditemui di Sekolah Rakyat Sentra Handayani, Jakarta, Kamis (10/7/2025).
Model ini menempatkan anak sebagai subjek utama pembelajaran, sekaligus menghindari praktik homogenisasi yang selama ini kerap menjadi kendala dalam sistem pendidikan konvensional.
Baca juga: 361 RDTR Belum Tuntas di Sulawesi, Menteri ATR/BPN Dorong Percepatan
Didukung Teknologi: LMS dan Laptop untuk Semua Siswa
Untuk menunjang fleksibilitas pembelajaran, Sekolah Rakyat menerapkan Learning Management System (LMS) sebagai platform utama.
Melalui LMS, siswa dapat mengakses modul pembelajaran digital, latihan soal, video pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar secara mandiri.
Setiap siswa di Sekolah Rakyat Sentra Handayani diberikan fasilitas laptop pribadi, yang digunakan selama proses belajar-mengajar.
Dalam satu kelas yang berisi maksimal 25 siswa, guru bertugas memantau dan membimbing penggunaan laptop agar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
“Melalui LMS, proses belajar menjadi transparan. Orang tua bisa memantau langsung perkembangan anaknya, guru dapat memberi umpan balik yang tepat waktu, dan kepala sekolah bisa mengawasi capaian tiap siswa. Semuanya terintegrasi,” jelas Regut.
Baca juga: Wabup Buol Kunjungi Balai Benih Ikan Bantimurung untuk Kerja Sama dengan Maros
10 Mata Pelajaran Inti, Kurikulum Kontekstual
Di tahap awal ini, siswa Sekolah Rakyat akan mempelajari 10 mata pelajaran inti, dengan pendekatan kurikulum yang kontekstual dan berbasis proyek. Kurikulum tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga penguatan karakter, keterampilan hidup (life skills), dan pengembangan minat bakat.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga kreatif, kritis, dan punya empati sosial. Karena itu, pembelajaran tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga melibatkan proyek nyata di lingkungan sekitar,” tambah Regut.
Rintisan Nasional: 100 Lokasi, Ribuan Peluang Baru
Program Sekolah Rakyat tahun ajaran 2025/2026 akan diluncurkan di 100 titik rintisan di seluruh Indonesia, sebagai bagian dari perluasan akses pendidikan berkualitas.
Sebanyak 63 titik akan memulai proses matrikulasi pada 14 Juli 2025, sedangkan 37 lokasi sisanya akan memulai di akhir bulan Juli.
Setiap lokasi akan mengadopsi prinsip MEME dan mengintegrasikan teknologi dalam proses belajar.
Guru-guru yang mengajar telah menjalani pelatihan intensif mengenai pedagogi diferensial, penggunaan LMS, serta pendekatan pembelajaran berbasis proyek.
Baca juga: Mabes Polri Bekuk Kasat Resnarkoba Polres Nunukan dan 3 Anak Buahnya, Dugaan Peredaran Narkotika
Menghapus Sekat, Membuka Akses Pendidikan untuk Semua
Program Sekolah Rakyat diinisiasi sebagai bagian dari komitmen pemerintah dalam menjawab kesenjangan pendidikan, terutama bagi anak-anak dari kalangan rentan atau yang tidak tertampung dalam sistem sekolah formal.
Berbeda dari sekolah konvensional, Sekolah Rakyat terbuka bagi siswa dari latar belakang beragam—termasuk anak-anak pekerja migran, pengungsi, pekerja anak, maupun mereka yang mengalami putus sekolah.
“Kami ingin membuktikan bahwa semua anak bisa belajar dan tumbuh, asalkan diberikan kesempatan, pendekatan yang tepat, dan dukungan yang cukup,” ujar Regut.
Masa Depan Pendidikan yang Lebih Fleksibel
Dengan penerapan sistem MEME, Sekolah Rakyat tidak hanya memberikan akses, tetapi juga mendesain ulang cara belajar anak Indonesia. Sistem ini memungkinkan siswa untuk keluar masuk jenjang pendidikan tanpa kehilangan rekam belajar atau kesempatan melanjutkan.
Model ini juga membuka kemungkinan bahwa kelulusan bukan lagi ditentukan oleh waktu yang kaku, melainkan oleh capaian kompetensi yang nyata.
Sumber: Tribunnews.com
| Komitmen Dorong Produk Unggulan Lokal, Barantin Sukses Kawal Ekspor Durian Parimo ke Pasar Global |
|
|---|
| Wali Kota Palu dan Kepala Barantin Serahkan Sapi Banmas Presiden di Huntap Tondo 1 |
|
|---|
| Audiensi dengan DP3A, KPID Sulteng Dorong Ekosistem Penyiaran Sehat dan Edukatif |
|
|---|
| Pemkab Poso Dukung Pembinaan Generasi Muda Lewat PERSAMI KKRI |
|
|---|
| Pemprov Sulteng Genjot Hilirisasi Durian dan Kelapa untuk Pasar Ekspor |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/uf90asuf90sa-u90fu90as-ufas.jpg)