Sulteng Hari Ini
Kepala BKKBN: Anak Stunting Sulit Bersaing, Bisa Jadi Penonton di Daerah Sendiri
Sehingga anak dengan Stunting tersebut dapat tidak produktivitas dalam bekerja.
TRINUNPALU.COM, PARIMO - Kepala Kemendukbangda/BKKBN Sulawesi Tengah, Tenny C Sariton mengungkapkan bahwa anak terkena Stunting tidak tahan dengan lingkungan kerja saat ia dewasa.
Sehingga anak dengan Stunting tersebut dapat tidak produktif dalam bekerja.
Ia mencontohkan, dari 45 formasi CPNS yang dibuka di instansinya, hanya 41 yang terisi.
Setengahnya berasal dari luar Sulawesi Tengah, karena anak-anak daerah tidak lolos bersaing.
Ia menjelaskan bahkan ada pegawai yang secara fisik tampak sehat, namun memiliki daya tangkap dan daya pikir yang rendah.
Baca juga: Anak Stunting Rentan Sakit dan Sulit Belajar, BKKBN Minta Cegah Sejak Dini
“Anak-anak sekarang kalau tidak disiapkan dari sekarang, ke depan hanya jadi penonton. Saya khawatir anak-anak Sulteng, khususnya Parigi Moutong, tidak bisa bersaing di daerah sendiri,” ujarnya.
Untuk itu, Tenny C Sariton berharap semua pihak, termasuk pemerintah daerah, terus berkomitmen memanfaatkan anggaran yang telah disalurkan agar berdampak nyata di lapangan.
“Sayang kalau dikasih dana tapi tidak dimanfaatkan. Kami ingin ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh keluarga yang berisiko Stunting,” pungkasnya.
Kemudian ia mengapresiasi Parigi Moutong karena dinilai menunjukkan keseriusan dalam menurunkan angka Stunting.
“Parigi Moutong sudah mulai lebih awal dan geraknya cepat. Ini harus dipertahankan,” ujarnya.
Baca juga: Kapolsek Tinombo Parigi Moutong Tanam Jagung Bareng Santri di Pesantren Alraiyan
Namun, prevalensi Stunting di wilayah Sulawesi Tengah yang saat ini masih berada di angka 26,1 persen.
Baca juga: Tenny C Sariton: Parigi Moutong Bergerak Cepat Turunkan Angka Stunting, Perlu Dicontoh Daerah Lain
Menurut Tenny, Stunting adalah permasalahan serius yang dapat menghambat kualitas sumber daya manusia dan masa depan bangsa, jika tidak ditangani secara menyeluruh dan segera.
“Prevalensi Stunting Sulawesi Tengah masih tinggi, yakni 26,1 persen. Di Parigi Moutong sendiri 22,3 persen. Artinya, dari setiap 100 anak yang lahir, 22 di antaranya mengalami Stunting,” ujar Tenny dalam kegiatan penanganan Stunting di Parigi, Selasa (5/8/2025).
Ia menekankan, angka tersebut berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024.
Tingginya angka ini, menurutnya, menunjukkan bahwa perhatian dan penanganan Stunting masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Tenny menjelaskan bahwa Stunting berawal dari kurangnya asupan gizi dan infeksi berulang, terutama pada masa 1000 hari pertama kehidupan anak, yaitu sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun.
“Kalau gizi tidak terpenuhi sejak awal, maka perkembangan otak anak terganggu. Itu yang menyebabkan sulit belajar saat sekolah,” katanya.
Baca juga: Tenny C Sariton: Stunting di Sulteng Jadi PR Bersama yang Mendesak
Ia menambahkan, anak yang mengalami Stunting saat kecil, saat dewasa berisiko tinggi terkena penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, obesitas, hingga jantung koroner.
“Imunitas mereka juga rendah, sehingga tidak tahan menghadapi tekanan lingkungan kerja saat dewasa,” ucapnya.
“Padahal saya sangat ingin anak daerah yang lolos, karena mereka biasanya lebih bertahan. Kalau dari luar, baru satu tahun sudah minta pindah,” kata Tenny.
Ia menilai persoalan ini harus dilihat sejak hulu, dengan memperkuat ketahanan keluarga dan memastikan gizi anak terpenuhi sejak masa kehamilan.
“1000 hari pertama kehidupan adalah masa emas. Ini saatnya membentuk pondasi kuat bagi pertumbuhan dan perkembangan anak,” tegasnya.
Dalam satu bulan terakhir, ia sudah empat kali hadir dalam kegiatan Stunting di kabupaten tersebut.
BKKBN, lanjutnya, telah menyalurkan berbagai bentuk dukungan, mulai dari Dana Alokasi Non-fisik (DANFIS), Dana DAK BOKB, hingga program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT).
“Kami fasilitasi pemantauan gizi keluarga, edukasi gizi, pendampingan, sampai pembiasaan konsumsi makanan lokal bergizi,” jelasnya. (*)
| CAT Akademik Penerimaan Polri 2026 Digelar di Palu, Karo SDM Polda Sulteng Tekankan Transparan |
|
|---|
| Aliansi Buruh Tadulako Kritik Pembentukan Satgas Ketenagakerjaan Sulteng |
|
|---|
| Sambut Kapolda Baru, Ketua Fraksi PKB DPRD Sulteng Soroti Isu Tambang Ilegal hingga Konflik Agraria |
|
|---|
| Anwar Hafid Dorong Kopdes Merah Putih Beroperasi Cepat, Tingkatkan Ekonomi Masyarakat |
|
|---|
| Kabupaten Poso Catat Progres Tercepat Pembangunan Koperasi Desa di Sulteng |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palu/foto/bank/originals/Tenny-Sariton-Prevalensi-Stunting-Sulawesi-Tengah-Masih-Tinggi.jpg)