Rabu, 8 April 2026

Sulteng Hari Ini

Anak Stunting Rentan Sakit dan Sulit Belajar, BKKBN Minta Cegah Sejak Dini

Bahkan ada pegawai yang secara fisik tampak sehat, namun memiliki daya tangkap dan daya pikir yang rendah.

Editor: Regina Goldie
FAAIZ / TRIBUNPALU.COM
DAMPAK STUNTING - Kepala Kemendukbangda/BKKBN Sulawesi Tengah, Tenny C Sariton mengungkapkan bahwa dampak Stunting juga terlihat dari menurunnya produktivitas kerja. 

TRINUNPALU.COM, PARIMO -  Kepala Kemendukbangda/BKKBN Sulawesi Tengah, Tenny C Sariton mengungkapkan bahwa dampak Stunting juga terlihat dari menurunnya produktivitas kerja.

Bahkan ada pegawai yang secara fisik tampak sehat, namun memiliki daya tangkap dan daya pikir yang rendah.

“Anak-anak sekarang kalau tidak disiapkan dari sekarang, ke depan hanya jadi penonton. Saya khawatir anak-anak Sulteng, khususnya Parigi Moutong, tidak bisa bersaing di daerah sendiri,” ujarnya.

Untuk itu, Tenny C Sariton berharap semua pihak, termasuk pemerintah daerah, terus berkomitmen memanfaatkan anggaran yang telah disalurkan agar berdampak nyata di lapangan.

“Sayang kalau dikasih dana tapi tidak dimanfaatkan. Kami ingin ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh keluarga yang berisiko Stunting,” pungkasnya.

Kemudian ia mengapresiasi Parigi Moutong karena dinilai menunjukkan keseriusan dalam menurunkan angka Stunting.

“Parigi Moutong sudah mulai lebih awal dan geraknya cepat. Ini harus dipertahankan,” ujarnya.

Baca juga: Kapolsek Tinombo Parigi Moutong Tanam Jagung Bareng Santri di Pesantren Alraiyan

Namun, prevalensi Stunting di wilayah Sulawesi Tengah yang saat ini masih berada di angka 26,1 persen.

Menurut Tenny, Stunting adalah permasalahan serius yang dapat menghambat kualitas sumber daya manusia dan masa depan bangsa, jika tidak ditangani secara menyeluruh dan segera.

“Prevalensi Stunting Sulawesi Tengah masih tinggi, yakni 26,1 persen. Di Parigi Moutong sendiri 22,3 persen. Artinya, dari setiap 100 anak yang lahir, 22 di antaranya mengalami Stunting,” ujar Tenny dalam kegiatan penanganan Stunting di Parigi, Selasa (5/8/2025).

Ia menekankan, angka tersebut berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024.

Tingginya angka ini, menurutnya, menunjukkan bahwa perhatian dan penanganan Stunting masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Tenny menjelaskan bahwa Stunting berawal dari kurangnya asupan gizi dan infeksi berulang, terutama pada masa 1000 hari pertama kehidupan anak, yaitu sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun.

“Kalau gizi tidak terpenuhi sejak awal, maka perkembangan otak anak terganggu. Itu yang menyebabkan sulit belajar saat sekolah,” katanya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved