OPINI

Mereka Ingin Hidup Sehat Lebih Lama: Trend Longevity sebagai Tantangan dan Harapan

Fenomena ini menjadi tren gaya hidup: dari komunitas lari dan bersepeda, klinik nutrisi personal, hingga viral di linimasa media sosial.

Editor: Fadhila Amalia
Handover
Di balik senja yang merona, seorang simbah Bernama Pratman (nama samaran) di lereng Ungaran Semarang Jawa Tengah setiap pagi berjalan menyusuri pematang sawah sambil menyapa tetangga, lalu menutup hari dengan wedang jahe hangat. 

Oleh :
Prima Trisna Aji

Dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang

TRIBUNPALU.COM - Di balik senja yang merona, seorang simbah Bernama Pratman (nama samaran) di
lereng Ungaran Semarang Jawa Tengah setiap pagi berjalan menyusuri pematang sawah sambil menyapa tetangga, lalu menutup hari dengan wedang jahe hangat.

Usianya lewat 80 tahun, tetapi langkahnya masih mantap dan senyum tak pernah lepas.

Ia percaya umur panjang yang sehat bukan keberuntungan semata, melainkan buah kebiasaan kecil yang dijaga puluhan tahun.

Kini cita-cita hidup sehat dan panjang umur longevity tak lagi sekadar wejangan dari orang tua.

Fenomena ini menjadi tren gaya hidup: dari komunitas lari dan bersepeda, klinik nutrisi personal, hingga viral di linimasa media sosial.

Namun di balik pesonanya, pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: bagaimana memastikan tambahan usia itu juga diiringi tambahan tahun hidup yang sehat dan bermakna? Longevity: Bukan Sekadar Menambah Tahun, Tapi Menambah Kualitas Tahun Riset kesehatan modern membedakan lifespan, yaitu lama hidup seseorang, dan healthspan, yakni lama hidup dalam kondisi sehat tanpa penyakit kronis yang membatasi aktivitas.

Indonesia termasuk negara yang terus menua dan kini lebih sadar pencegahan.

Di tingkat provinsi, Badan Pusat Statistik Jawa Tengah mencatat bayi yang lahir pada tahun 2024 memiliki harapan hidup rata-rata 74,91 tahun, naik dari tahun sebelumnya.

Sementara itu Kabupaten Semarang dengan pusat pemerintahan di Ungaran Jawa Tengah melaporkan bahwa angka harapan hidup sekitar 76,15 tahun, sejalan dengan perbaikan Indeks Pembangunan Manusia.

Angka-angka ini menggembirakan, tetapi sering kali tambahan tahun hidup belum diiringi tambahan tahun sehat; penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan jantung tetap menjadi beban utama.

Profil Kesehatan Jawa Tengah 2023 menegaskan pentingnya memperkuat layanan promotif-preventif agar tahun tambahan tidak menjadi tahun sakit.

Mengapa Tren Longevity Muncul Sekarang

Ada beberapa faktor yang membuat isu longevity meledak. Pertama, perubahan demografi: populasi menua dan keluarga mengecil, sementara masyarakat sadar bahwa biaya merawat penyakit kronis di usia lanjut amat tinggi, baik secara finansial maupun emosional.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved