Selasa, 14 April 2026

Mengenal Tiga Sosok Pengibar Bendera Merah Putih Pertama 17 Agustus 1945

Momen bersejarah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 tak hanya ditandai oleh pembacaan naskah

Editor: Lisna Ali
via bobo.grid.id
Detik-detik Pengibaran bendera saat Upacara Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 

TRIBUNPALU.COM - Momen bersejarah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 tak hanya ditandai oleh pembacaan naskah oleh Sukarno, tetapi juga oleh peran tiga individu yang mengibarkan Sang Saka Merah Putih.

Mereka adalah Abdul Latief Hendraningrat, Suhud Sastro Kusumo, dan SK Trimurti.

Upacara yang berlangsung di kediaman Sukarno di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat, menjadi saksi bisu kontribusi mereka.

Setelah Sukarno membacakan proklamasi, bendera yang dijahit oleh Fatmawati dikibarkan.

Disusul dengan sambutan oleh Soewirjo, Wakil Wali Kota Jakarta saat itu dan Moewardi, pimpinan Barisan Pelopor.

Baca juga: Bupati Donggala Vera Elena Laruni Bebaskan Warga Miskin Ekstrem dari Pajak PBB-P2

Kisah heroik mereka, meski jarang diceritakan secara detail, menjadi pengingat bahwa kemerdekaan diraih melalui keberanian kolektif dari individu-individu yang berdedikasi tinggi.

Berikut 3 tokoh pertama yang mengibarkan Bendera Merah Putih

  • Abdul Latief Hendraningrat: Sebagai pengerek bendera, Latief adalah seorang prajurit Pembela Tanah Air (PETA) dengan pangkat komandan kompi. Menariknya, ia menjalankan tugas ini sambil mengenakan seragam tentara Jepang. Sebelum PETA, ia sudah aktif di Pusat Latihan Pemuda bentukan Jepang.
  • Suhud Sastro Kusumo: Anggota Barisan Pelopor ini mendampingi Latief Hendraningrat. Suhud juga diberi tugas penting lainnya, yaitu mencari bambu sebagai tiang bendera. Selama peristiwa Rengasdengklok pada 14 Agustus 1945, ia juga ditugaskan menjaga keluarga Sukarno.
  • SK Trimurti: Mengutip Grid.id SK Trimurti adalah seorang jurnalis, aktivis, dan pejuang perempuan militan. Ia muncul membawa nampan berisi bendera Merah Putih yang telah dijahit oleh Fatmawati. Trimurti dikenal karena keberaniannya; ia pernah dipenjara Belanda pada 1936 karena menyebarkan pamflet antipenjajah. Tahun 1956 ia memimpin Gerakan Wanita Sedar (Gerwis), Cikal bakal Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Ia pernah diutus Dewan Perancang Nasional (sekarang Bappenas) ke Yugoslavia untuk mempelajari manajemen pekerja. Kegiatannya hingga usianya mendekati 80 tahun masih penuh

Artikel telah tayang di Tribunnews.com

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved