Jumat, 24 April 2026

Valas Hari Ini

Dolar AS Makin Kuat, Rupiah Diprediksi Terus Melemah Hingga Rp16.900

Dari sisi eksternal, penguatan dolar AS di pasar global menyebabkan banyak mata uang Asia, termasuk rupiah, mengalami pelemahan.

Editor: Regina Goldie
Kontan/Akbar Nugroho Gumay
Ilustrasi pertukaran mata uang rupiah 

TRIBUNPALU.COM - Rabu, 14 Januari 2026, diperkirakan Rupiah akan bergerak fluktuatif, dengan kecenderungan melemah dalam rentang Rp16.870 hingga Rp16.900 per dolar AS.

Hingga pukul 10.06 WITA, nilai Rupiah terhadap dolar AS berada pada level Rp16.870.

Pelemahan Rupiah saat ini didorong oleh kombinasi faktor eksternal dan sensitivitas pasar terhadap isu domestik.

Dari sisi eksternal, penguatan dolar AS di pasar global menyebabkan banyak mata uang Asia, termasuk Rupiah, mengalami pelemahan.

Baca juga: Bupati Morut Bahas Pembangunan Infrastruktur dan Kesejahteraan Masyarakat dengan MPR RI

Sejumlah mata uang asing lainnya juga mengalami penurunan.

Yen Jepang terkoreksi 0,47 persen, dolar Hong Kong turun 0,04 % , dolar Singapura melemah 0,08 % , dan won Korea menurun 0,43 % .

Peso Filipina turun 0,13 % , rupee India melemah 0,13 % , yuan China terkoreksi 0,04 % , serta baht Thailand mengalami depresiasi 0,68 % . Sementara itu, ringgit Malaysia justru menguat sebesar 0,23 % .

Kekuatan dolar AS sering kali mempengaruhi arus modal yang mengarah ke pasar negara berkembang, sehingga mata uang mereka terdepresiasi.

Selain itu, arus keluar dana asing (hot money flow) juga memberikan tekanan tambahan pada nilai tukar Rupiah, terutama di pasar surat utang negara.

Baca juga: Bupati Poso Soroti Kebutuhan Rumah Sakit dan Infrastruktur Jalan di Audiensi Bersama MPR RI

Hal ini disebabkan oleh investor yang menarik dana mereka akibat ketidakpastian ekonomi atau politik, baik dari dalam negeri maupun global.

Kondisi geopolitik yang tidak stabil, seperti ketegangan antara AS dan Venezuela, Rusia dan Ukraina, serta ketegangan yang terus berkembang antara China dan Taiwan, juga membuat pasar lebih berhati-hati.

Dalam situasi seperti ini, dolar AS sering dipilih sebagai aset aman (safe haven), sementara aset berisiko seperti Rupiah menjadi lebih rentan.

Investor cenderung menunda penempatan dana di pasar negara berkembang dan lebih memilih mengalihkan investasinya ke dolar AS, yang dianggap lebih stabil.

Sumber: Tribun Palu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved