Selasa, 14 April 2026

Krisis Energi Mengintai, Harga Minyak Dunia Tembus 108 Dolar AS Imbas Perang Timur Tengah

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini memicu krisis energi global yang ditandai dengan melambungnya harga minyak dunia.

Editor: Lisna Ali
Kompas.com/AFP/SAUL LOEB
HARGA MINYAK - Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini memicu krisis energi global yang ditandai dengan melambungnya harga minyak dunia. 

TRIBUNPALU.COM - Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini memicu krisis energi global yang ditandai dengan melambungnya harga minyak dunia.

Pada perdagangan Minggu (8/3/2026), harga minyak dunia menembus level 100 dolar AS per barel untuk pertama kali dalam empat tahun terakhir.

Lonjakan ini merupakan imbas langsung dari serangan gabungan yang dilancarkan militer AS dan Israel ke wilayah Iran sejak akhir Februari lalu.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat meroket sekitar 18 persen hingga menyentuh angka 108 dolar AS per barel.

Sementara itu, minyak mentah Brent yang menjadi acuan global turut melonjak 16 persen dan berada di kisaran harga yang sama, yakni 108 dolar AS per barel.

Baca juga: Ketua DPRD Parigi Moutong Dorong Pengembangan Wisata Panjat Tebing di Desa Uevolo

Kenaikan tajam ini menjadi yang tertinggi sejak Juli 2022, mencerminkan kekhawatiran besar pasar terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

Pasar energi mulai goyah seiring meningkatnya ancaman gangguan pada jalur perdagangan minyak utama di kawasan Timur Tengah.

Kekhawatiran terbesar terfokus pada potensi penutupan Selat Hormuz, yang merupakan rute bagi 20 persen pasokan minyak dunia.

Iran sebelumnya telah mengeluarkan ancaman untuk menargetkan kapal-kapal tanker yang melintas jika konflik militer terus meluas.

Ancaman sabotase di jalur laut strategis tersebut memicu kepanikan investor dan mendorong aksi beli besar-besaran di bursa komoditas.

Baca juga: Baru Sehari Menjabat, Mojtaba Khamenei Langsung Perintahkan Rudal Gempur Israel

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menanggapi situasi ini dengan menyebut kenaikan harga energi sebagai konsekuensi logis dari upaya pengamanan global.

Trump menegaskan bahwa operasi militer terhadap Iran merupakan langkah krusial untuk menghentikan ambisi pengembangan senjata nuklir Teheran.

Menurutnya, stabilitas jangka panjang di kawasan tersebut pada akhirnya akan memberikan dampak positif bagi pasar energi dunia.

Namun, dampak jangka pendek dari kenaikan harga minyak ini mulai memukul sektor keuangan dan pasar modal internasional.

Beberapa indeks saham utama di Amerika Serikat dilaporkan berguguran karena kekhawatiran terhadap munculnya gelombang inflasi baru.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved